Selain melalui makanan harian, cara menjaga kualitas dan kuantitas ASI dapat dilakukan dengan mengoptimalkan stimulasi laktasi, mencukupi hidrasi, serta mengelola stres. Secara medis, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh hormon prolaktin untuk pembentukan ASI dan hormon oksitosin untuk melancarkan alirannya. Pengosongan payudara secara rutin setiap 2–3 jam menjadi pemicu utama agar kedua hormon tersebut bekerja maksimal.
Ibu disarankan mengonsumsi cairan minimal 3,1 liter per hari untuk menjaga kecukupan volume plasma darah dan cairan ASI. Selain itu, istirahat yang cukup serta stimulasi pijat oksitosin di area punggung sangat ampuh menurunkan kadar hormon stres. Kombinasi stimulasi fisik dan gaya hidup sehat ini memastikan pasokan ASI tetap kental, lancar, serta melimpah.
Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI (Permenkes No. 28 Tahun 2019) mengenai Angka Kecukupan Gizi (AKG), Ibu menyusui membutuhkan tambahan energi dan nutrisi mikro spesifik dibanding kondisi normal:
Ibu menyusui memerlukan total 77–80 gram protein per hari. Protein berfungsi membentuk imunoglobulin (kekebalan tubuh) dalam ASI serta mempercepat pemulihan jaringan rahim pascapersalinan. Sumber protein berkualitas tinggi dapat diperoleh dari dada ayam (31g protein/100g), telur (6g protein/butir), atau tahu-tempe.
Ibu menyusui menyalurkan sekitar 200–300 mg kalsium per hari ke dalam ASI. Jika asupan kalsium kurang dari 1.300 mg/hari, tubuh akan mengambil cadangan kalsium dari tulang Ibu (resorpsi tulang/demineralisasi). Pastikan Ibu mengonsumsi susu rendah lemak, yogurt, keju, brokoli, dan sayuran hijau seperti daun katuk yang dikenal sebagai pelancar ASI alami terbaik.
Kebutuhan zat besi harian mencapai 32 mg/hari untuk mencegah anemia defisiensi besi dan menjaga pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi terbukti klinis dapat mereduksi volume produksi ASI dan membuat Ibu cepat lelah.
Asam folat (Vitamin B9) sebanyak 500 mcg/hari dibutuhkan untuk sintesis DNA dan pembentukan sel darah merah bayi. Makanan seperti bayam, brokoli, dan alpukat merupakan sumber asam folat alami yang baik.
Sesuai rekomendasi EFSA (European Food Safety Authority), Ibu menyusui disarankan mengonsumsi minimal 200 mg DHA per hari. DHA ditransfer langsung melalui ASI untuk mendukung perkembangan jaringan otak (neurodevelopment) dan retina mata bayi.
Beberapa makanan yang dipercaya mampu membantu memperlancar dan menjadi cara alami mengentalkan ASI adalah sebagai berikut:
Selain konsumsi makanan sehat, ada beberapa cara memperlancar ASI secara alami yang bisa Ibu lakukan sehari-hari, yaitu:
Semakin sering bayi menyusu, semakin banyak ASI yang diproduksi tubuh. Rutinlah menyusui setiap 2–3 jam sekali untuk menjaga produksi ASI tetap tinggi.
Stres berlebihan dapat menghambat produksi ASI. Cobalah lakukan relaksasi sederhana seperti meditasi, yoga khusus ibu menyusui, atau mendengarkan musik yang menenangkan saat menyusui atau memompa ASI.
Kurang tidur akan mengganggu produksi hormon prolaktin yang penting untuk produksi ASI. Usahakan tidur yang cukup dan berkualitas meskipun dalam jadwal singkat di antara waktu menyusui.
Pijat payudara dengan lembut menggunakan minyak alami seperti minyak zaitun atau minyak kelapa dapat merangsang aliran ASI serta meningkatkan produksi ASI secara signifikan.
Dehidrasi bisa menyebabkan produksi ASI menurun. Pastikan Ibu minum cukup air putih, minimal 8–10 gelas per hari. Selain air mineral, Ibu juga bisa mengonsumsi jus buah alami atau susu khusus menyusui.
Ada beberapa hal yang harus Ibu hindari selama masa menyusui demi memastikan produksi ASI tetap optimal dan berkualitas, seperti:
Untuk memastikan ASI berkualitas optimal, selain konsumsi makanan alami, Ibu bisa menambahkan susu khusus ibu menyusui seperti PRENAGEN Lactamom. Produk ini diperkaya dengan asam folat, kalsium, zat besi, omega-3 dan omega-6 yang diformulasi khusus untuk ibu menyusui.
Dengan mengetahui berbagai cara dan pelancar ASI alami ini, Ibu bisa memberikan nutrisi terbaik sekaligus menjaga kualitas ASI demi tumbuh kembang optimal buah hati tercinta. Temukan susu tersebut pada halaman berikut ini: Kandungan PRENAGEN lactamom, Apa Manfaatnya?