Masa Menyusui

Kupas Tuntas Penyebab Bayi Sering Muntah Di Sini, Bu!

Ditulis oleh: Amicis

Kupas Tuntas Penyebab Bayi Sering Muntah Di Sini, Bu!

Muntah memang rentan dialami oleh sebagian orang, mulai dari dewasa hingga anak terutamanya bayi yang sering muntah. Meski cukup umum terjadi pada bayi berusia beberapa minggu, pastinya Ibu dan Ayah merasa khawatir dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Baca juga:Cara Menyimpan ASI yang Aman untuk Dikonsumsi Bayi

Muntah bisa menjadi kondisi serius yang menandakan bayi mengalami gangguan kesehatan, apalagi bayi muntah terus menerus atau lebih dari sesekali. Tentunya penting bagi Ibu dan Ayah mengetahui penyebab mengapa bayi sering muntah, serta bagaimana mengatasinya. Hal ini menghindari Ibu dan Ayah merasa panik, yuk cari tahu selengkapnya di artikel ini.

Jenis Muntah Bayi

Sebelum Ibu mengetahui apa penyebab bayi sering muntah, kenali terlebih dulu jenis muntah pada bayi. Beda jenisnya, tentu beda penanganan medisnya Bu. Berikut ini beberapa jenisnya dilansir dari KlikDokter.

Muntah Menyemprot

Jika bayi tiba-tiba menyembur isi lambung, tandanya ia mengalami muntah menyemprot. Penyebab jenis muntah ini adalah penyempitan bagian yang menghubungkan lambung atau usus (stenosis pilorus). Bayi baru lahir rentan mengalami jenis muntah menyemprot. Untuk penanganan lebih lanjut, Ibu perlu segera memeriksakan kondisi bayi pada dokter spesialis anak.

Muntah Kekuningan

Jenis muntah yang satu ini umumnya tidak berbahaya. Muntah kekuningan berasal dari peradangan saluran cerna. Namun apabila bayi sering muntah dan disertai gejala lemas, segera membawanya pada fasilitas kesehatan. Penyebab muntah kekuningan bisa beragam, mulai dari infeksi hingga kekenyangan sehingga bayi muntah setelah minum susu formula atau ASI.

Muntah Kehijauan

Bila bayi mengeluarkan cairan hijau dibarengi saat muntah, tandanya ia mengalami muntah kehijauan. Warna ini berasal dari cairan empedu yang diproduksi dalam mencerna makanan. Jenis muntah ini muncul karena adanya kemungkinan sumbatan pada saluran cerna yang harus ditangani ahlinya.

Muntah Hitam Pekat atau Merah Kehitaman

Warna hitam atau merah cenderung hitam bisa menandakan bayi mengalami pendarahan pada saluran cerna. Pendarahan bisa disebabkan oleh infeksi atau penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINs). Ibu tetap disarankan tenang dan apabila setelah beberapa jam gejala disertai sakit perut, demam, lemah dan tidak nafsu makan, segera bawa bayi pada fasilitas kesehatan terdekat.

Apakah Gumoh juga Termasuk Muntah pada Bayi?

Sering kali Ibu bertanya, “Bagaimana jika bayi muntah setelah minum ASI”. Sebelum beranggapan bayi muntah, Ibu perlu membedakan perbedaan muntah dan gumoh. Kondisi keluarnya susu setelah ditelan bayi atau disebut gumoh, terjadi karena ukuran lambung bayi yang masih kecil akibatnya mudah penuh.

Volume susu dan udara yang masuk pada perut menyebabkan refluks. Kondisi gumoh juga bisa terjadi pada kerongkongan bayi yang belum sempurna dalam menahan isi lambung. Gumoh berlangsung hingga usianya 1 tahun. Sedangkan, bayi muntah banyak setelah minum ASI ini berlangsung hingga usianya 5 bulan.

Namun Bu, bila muntah disertai diare, alergi atau timbulnya ruam kulit, demam, tidak mau menyusu dan rewel, perut bengkak, serta bayi sering muntah terus menerus lebih dari satu hingga dua hari, segera periksakan Buah Hati pada dokter spesialis anak di fasilitas terdekat. Setelah muntah, bayi rentan mengalami dehidrasi. Ibu bisa mengetahuinya melalui bibir kering, menangis tanpa air mata dan jarang buang air kecil.

Penyebab Bayi Sering Muntah

Jika Ibu sudah tahu mengenai jenis muntah pada bayi serta perbedaan gumoh dan muntah, penting bagi Ibu tahu mengenai apa penyebabnya sehingga tahu tindakan selanjutnya di bawah ini.

Infeksi

Seperti paparan sebelumnya, bayi baru lahir masih mengembangkan beberapa fungsi organnya agar menjadi lebih sempurna. Hal ini juga berlaku pada tingkat imunitas tubuhnya. Bayi yang masih rentan imun tubuhnya mudah terserang infeksi. Penyakit yang sering menyerang yaitu gastroenteritis, atau muntah disertai diare akibat peradangan pada saluran pencernaan terutama lambung.

Apabila terjadi muntah pada bayi 7 bulan atau di bawah 1 tahun, Ibu perlu segera memeriksakannya pada dokter. Selain gastroenteritis, infeksi juga bisa menyerang kandung kemih dan telinga.

Tak hanya infeksi, penyakit pun bisa berkembang seperti Stenosis Pilorus, atau kondisi dimana klep otot lambung dan usus menebal sehingga makanan yang diproses di lambung tidak bisa masuk ke dalam usus halus. Kondisi ini bisa dideteksi pada awal kelahirannya, yaitu bulan pertama kelahiran. Stenosis Pilorus dapat dilihat dari bayi yang muntah menyembur dalam jumlah banyak dan berwarna kuning.

Alergi Makanan

Menurut KlikDokter, 9 dari 10 reaksi alergi anak berhubungan dengan makanan seperti kacang-kacangan atau makanan bercangkang seperti udang dan telur. Untuk itu, penyebab bayi muntah setelah makan kemungkinan berasal dari alergi yang dialaminya.

Alergi makanan yang berujung pada muntah muncul pada rentang waktu 2-6 jam. Jika bayi sering muntah dan terus menerus, hindari menghiraukan kondisi ini dan bawa ia pada fasilitas kesehatan.

Peningkatan Refleks Saluran Cerna

Bayi masih memiliki lambung dan kerongkongan yang masih kecil. Maka dari itu, bayi rentan mengalami muntah. Baik setelah makan, menyusui, dalam perjalanan atau terlalu lama menangis, membuatnya bisa mengalami muntah.

Muntah pada bayi terjadi bisa karena meningkatkan refleks sistem saluran cerna, sehingga makanan yang masuk ke lambung naik ke kerongkongan dan dimuntahkan. Umumnya, peningkatan refleks ini akan berangsur menghilang. Ibu disarankan menghindari gendong bayi dengan menggoyangkannya setelah menyusui atau makan.

Kapan Harus Membawa Bayi Ke Dokter?

Apabila muntah disertai dengan beberapa gejala di bawah ini, Ibu perlu langsung membawanya ke dokter spesialis kandungan pada fasilitas kesehatan terdekat.

  • Bayi muntah terus menerus, muntah menyembur dan sudah berlangsung lebih dari dua hari.
  • Cairan muntah berwarna hijau, merah kehitaman atau hitam pekat.
  • Adanya tanda dehidrasi, misalnya menangis tanpa air mata, kurangnya buang air kecil, mulut kering dan lemas.
  • Volume susu atau kekuatan muntah yang meningkat
  • Perut membengkak
  • Berat badan menurun dan cenderung rewel.
  • Sesak nafas dan bayi tampak kesakitan akibat batuk
  • Disertai gejala demam dan diare
  • Jika bayi jatuh atau mengalami cedera, segera periksakan terkait dengan tanda gegar otak

Cara Mengatasi Bayi Sering Muntah

Setelah membaca beberapa poin di atas, Ibu juga perlu tahu tindakan setelah bayi muntah agar segera mendapatkan penanganan yang tepat. Untuk menghindarinya dari dehidrasi, Ibu perlu tetap memberinya cukup cairan, yaitu ASI atau susu sebelum usianya 6 bulan, dan ASI, susu atau air putih setelah usianya 6 bulan.

Hindari memberikan puree buah atau jus agar menghindari bayi dari kondisi diare. Berilah cairan tersebut secara bertahap supaya tidak menimbulkan keinginan Buah Hati untuk muntah. Jaga posisi bayi tetap tegak sambil menepuk punggungnya secara perlahan, serta upayakan ia tetap tidur.

Baca juga:Cara Memakaikan Popok Bayi dengan Benar

Dengan mengetahui jenis muntah bayi, perbedaan gumoh dan muntah, penyebab sering muntah dan cara mengatasinya, Ibu bisa lebih tenang dalam menghadapi situasi seperti ini. Jika gejala muntah disertai dengan berbagai tanda lainnya yang memparah kondisi bayi, jangan ragu untuk periksakan ke dokter spesialis anak atau langsung membawanya ke fasilitas kesehatan terdekat ya, Bu.