Gaya Hidup

Herbal Berbahaya yang Harus Dihindari Ibu Menyusui

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis Obgyn untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Theresia Sugiarto

Theresia adalah seorang Health Communicatior di PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Consumer Health). Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran 2018 dari Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA). Selain itu, Theresia juga dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Herbal Berbahaya yang Harus Dihindari Ibu Menyusui

Sangat penting untuk diketahui bahwa beberapa bahan herbal perlu dihindari oleh ibu menyusui, meliputi comfrey, kava, daun mengkudu, serta ekstrak pekat lidah buaya dan guarana. Ibu perlu menyadari bahwa bahan-bahan ini terkadang masih sering digunakan dan diselipkan dalam racikan jamu tradisional, suplemen pelangsing, maupun krim perawatan payudara yang diklaim 100% alami. Oleh karena itu, Ibu perlu teliti saat membaca label kemasan.

Mengasihi buah hati merupakan perjalanan yang luar biasa, namun terkadang rasa lelah dan kekhawatiran akan suplai ASI bisa membuat Ibu merasa tertekan. Di fase ini, banyak Ibu beralih pada pengobatan tradisional, meskipun tingginya penggunaan herbal sering kali dipengaruhi oleh kurangnya informasi yang komprehensif terkait faktor risikonya pada masa laktasi (Aragie & Afework, 2025). Ibu sama sekali tidak perlu memaksakan diri meminum ramuan pahit jika ada metode medis dan nutrisi yang lezat serta jauh lebih nyaman untuk tubuh.

Mengupas Mitos Obat Herbal Alami Pasti Aman untuk Busui

Terdapat asumsi yang beredar luas di masyarakat bahwa segala sesuatu yang berlabel "alami" sudah pasti aman. Mari kita luruskan miskonsepsi ini secara perlahan. Berdasarkan tinjauan ilmiah berjudul "Herbs in pregnancy and lactation: A review appraisal", dijelaskan bahwa tanaman herbal memiliki berbagai senyawa aktif yang dapat tersalurkan melalui sirkulasi darah Ibu kemudian masuk ke dalam ASI (Shinde et al., 2012).

Meskipun jamu tradisional dipercaya banyak membantu melancarkan ASI, sebuah penelitian berjudul "Gambaran Penggunaan Galaktagog pada Ibu Menyusui di Kota Malang" mencatat fakta bahwa sebagian kecil ibu (12,3%) tetap merasakan efek samping ringan seperti sakit kepala, kenaikan berat badan, dan sulit tidur, serta 1% bayi dilaporkan mengalami gangguan sembelit sementara (Wulandari et al., 2020) 

Efek Samping Tanaman Herbal pada Bayi dan Ibu Menyusui

Penting bagi Ibu untuk memahami bahwa organ tubuh bayi yang baru lahir, seperti ginjal dan organ hati, masih sangat sensitif serta berada dalam tahap penyempurnaan fungsi. Oleh sebab itu, segala asupan yang masuk ke dalam perut mungilnya perlu dijaga. Senyawa pekat dari beberapa herbal tidak selalu dapat dinetralkan sepenuhnya oleh sistem pencernaan Ibu, melainkan bisa ikut mengalir secara bebas bersama nutrisi ASI. Yuk, mulai hindari penggunaan beberapa jenis herbal di bawah ini demi kenyamanan dan kelancaran proses tumbuh kembang si Kecil.

Dampak Comfrey pada Fungsi Hati Bayi

Tanaman comfrey mengandung alantoin dan asam rosmarinik yang dapat memberatkan kerja organ hati si buah hati dan memicu kerusakan apabila terpapar secara terus-menerus melalui ASI. Oleh karena itu, Ibu sangat disarankan untuk mencari alternatif salep payudara lain yang berbahan dasar food-grade murni (seperti lanolin) alih-alih menggunakan krim lecet berbahan comfrey. Hal ini penting agar residunya benar-benar aman jika tidak sengaja tertelan oleh buah hati saat menyusu. Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) tidak merekomendasikan penggunaan produk oral berbahan herbal ini demi menjaga fungsi sel hati Ibu dan bayi tetap sehat maksimal.

Pengaruh Ekstrak Kava terhadap Kenyamanan Saraf Bayi

Berdasarkan informasi dari University of Utah College of Pharmacy, FDA sangat menyarankan kewaspadaan khusus pada konsumsi kava selama menyusui karena sifatnya yang dapat memicu toksisitas dan memengaruhi kinerja organ hati (Shane-McWhorter, 2025). Ekstrak kava memiliki efek penekan kecemasan dan relaksasi yang sangat kuat, yang jika berhasil menembus ke dalam cairan ASI dapat memengaruhi saraf bayi dan membuatnya merasa terlalu lesu atau mengantuk berlebih. Efek kantuk yang tidak wajar ini patut diwaspadai, sebab hal tersebut dapat membuat buah hati melewatkan jadwal menyusunya sehingga berat badannya berisiko sulit untuk naik sesuai grafik.

Pengaruh Daun Mengkudu dan Brotowali

Penting untuk menyoroti tingginya kadar kalium pada ekstrak daun mengkudu yang kerap digunakan sebagai campuran herbal. Asupan kalium pekat yang tiba-tiba melonjak masuk ke dalam aliran darah dapat memengaruhi keseimbangan cairan tubuh dan membuat ritme kerja jantung bayi, yang masih amat sensitif, menjadi jauh lebih berat dari yang seharusnya (Halodoc, 2026). Dalam aturan Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia yang diterbitkan oleh Kemenkes, brotowali dilarang dikonsumsi Ibu menyusui. Tanaman herbal ini dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan memiliki efek samping mual dan muntah. (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017).

Hal yang Perlu Diwaspadai dari Teh Diet dan Teh Laktasi

Ibu diimbau agar tidak mudah tergiur dengan berbagai produk komersial seperti teh pelangsing pascapersalinan atau minuman penurun berat badan instan yang menggunakan ragam campuran herbal tidak terstandar. Perlu diingat dengan ramah bahwa masa menyusui sama sekali bukanlah waktu yang ideal untuk melakukan diet ketat menggunakan suplemen, sebab tubuh Ibu sedang berada dalam fase pemulihan dan amat membutuhkan banyak energi cadangan untuk memproduksi ASI. Mari kenali tiga komposisi di bawah ini yang sering dipromosikan sebagai "peluntur lemak" namun terbukti kurang nyaman bagi pencernaan buah hati.

Dampak Pencahar Lidah Buaya pada Pencernaan Bayi

Lateks lidah buaya (getah kuning di bawah kulit daun) memiliki efek pencahar (cathartic) yang kuat. Ibu hamil dilarang mengonsumsi lateks Aloe vera karena sifat pencaharnya dapat merangsang kontraksi rahim, yang meningkatkan risiko persalinan prematur atau keguguran. Sementara Ibu menyusui tidak disarankan mengonsumsi obat pencahar berbasis lidah buaya karena antarkuinon dapat masuk ke dalam ASI dan menyebabkan diare pada bayi (Guo, X., & Mei, N., 2016). Kelompok ini tidak boleh menggunakan lidah buaya dalam bentuk apa pun, baik dioleskan ke kulit maupun diminum (Mayo Clinic, 2025). Menahan konsumsi herbal jenis ini sangatlah penting untuk mencegah risiko dehidrasi yang berbahaya pada bayi akibat volume cairan tubuh yang terlalu banyak keluar.

Efek Stimulan Guarana yang Membuat Bayi Terjaga

Beberapa tanaman seperti Guarana atau Ephedra yang sering diselipkan di dalam teh diet instan ternyata mengandung stimulan dan kafein dalam takaran yang cukup padat (Tetlow, n.d.). Guarana mengandung kafein sekitar empat kali lipat lebih banyak dibandingkan biji kopi (Lakin, H., et. al. 2023). Ketika Ibu menyusui mengonsumsi guarana, kafeinnya tidak hanya berhenti di tubuh, tetapi juga mengalir ke dalam ASI. Metabolisme bayi lebih lambat dibandingkan orang dewasa menyebabkan kafein menumpuk. Hal ini membuat bayi susah tidur, menjadi rewel (irritability), dan mengalami gangguan pencernaan seperti diare atau peningkatan aktivitas buang air besar. 

Dampak Daun Sage terhadap Penurunan ASI pada Masa Laktasi

Secara tradisional, daun sage dan spesies kerabatnya (Salvia fruticosa) sangat dikenal di berbagai budaya sebagai herbal untuk menurunkan produksi ASI. Tanaman ini biasanya dimanfaatkan oleh para ibu yang sedang dalam proses menyapih bayinya, atau ibu yang mengalami produksi ASI berlebih (hiperlaktasi). Secara umum, daun sage dapat ditoleransi oleh tubuh dengan baik. Namun, ibu menyusui tetap memiliki risiko mengalami beberapa efek samping ringan hingga sedang, seperti mual dan muntah, sakit perut, pusing, gelisah, dan mengi. Ketiadaan bukti ilmiah dan data keamanan membuatnya menjadi pilihan yang berisiko. Oleh sebab itu, sage sebaiknya dihindari oleh Ibu selama masa menyusui normal. Namun, sage mungkin bermanfaat sebagai pengobatan selama masa penyapihan untuk mengurangi produksi ASI (Yarnell, E., 1997)

PRENAGEN Lactamom Solusi Aman Pengganti Ramuan Herbal

Merawat buah hati tidak berarti Ibu harus mengabaikan rasa nyaman pada diri sendiri. Mengambil langkah ekstra kehati-hatian dalam memilih suplemen, jamu, atau teh diet pascapersalinan merupakan salah satu bentuk pelukan hangat perlindungan Ibu untuk menjaga organ tubuh buah hati yang masih sangat peka. Daripada khawatir akan efek samping tanaman herbal yang takarannya kurang pasti, Ibu dapat beralih pada solusi nutrisi yang terjamin secara medis untuk menenangkan pikiran.

Jadikan PRENAGEN Lactamom sebagai sahabat sejati Ibu yang berperan ganda sebagai ASI booster, energy booster, sekaligus mood booster andalan harian. Dengan memercayakan asupan pada PRENAGEN Lactamom, Ibu tidak perlu lagi repot menebak-nebak takaran herbal yang aman. Susu ini telah dirancang secara khusus dengan makronutrien berupa PROTEIN berkualitas tinggi serta mikronutrien yang sangat presisi untuk memelihara kualitas dan kuantitas ASI.

Percayalah bahwa merawat diri sendiri dengan asupan yang lezat dan aman adalah kunci kebahagiaan sejati bagi seorang Ibu. Saat Ibu merasa rileks, tenang, dan suasana hatinya sangat baik, suplai ASI akan terstimulasi keluar secara alami dan melimpah tanpa perlu lagi memaksakan diri meminum ramuan herbal yang tidak disukai. Memastikan asupan harian Ibu berasal dari sumber gizi yang teruji merupakan cara ternyaman untuk mendukung optimalisasi tumbuh kembang si Kecil sekaligus menjaga stamina tubuh Ibu tetap bugar menawan. Temukan ketenangan pikiran dan pelajari keunggulan nutrisi aman dari PRENAGEN Lactamom yang didesain khusus untuk mendukung indahnya perjalanan menyusui Ibu mulai hari ini.

Informasi yang Sering Ibu Tanyakan

1. Mengapa tanaman herbal alami tidak selalu aman dikonsumsi oleh ibu menyusui?

Tanaman herbal memiliki senyawa aktif kuat yang dapat tersalurkan melalui sirkulasi ASI kepada buah hati. Beberapa senyawa tersebut berisiko memicu efek samping karena organ tubuh bayi masih sangat sensitif. Oleh karena itu, Ibu perlu sangat teliti sebelum mengonsumsi jamu atau suplemen herbal tertentu.

2. Apa saja jenis herbal yang paling berbahaya bagi kesehatan hati dan saraf bayi?

Ibu sebaiknya menghindari comfrey, borage, dan kava karena berisiko mengganggu fungsi hati serta sistem saraf si buah hati. Paparan senyawa pirolizidin dari tanaman tersebut dapat memberatkan kerja organ hati bayi yang belum sempurna. Selain itu, ekstrak kava dapat membuat bayi merasa terlalu lesu dan melewatkan jadwal menyusunya.

3. Apakah ada jenis tanaman daun yang justru dapat menurunkan produksi ASI Ibu?

Ya, daun sage dan peppermint dalam dosis pekat memiliki sifat anti-galaktagogum yang dapat menghambat produksi kelenjar susu. Mengonsumsi herbal ini secara berlebihan berisiko menurunkan volume suplai ASI harian Ibu secara signifikan. Ibu disarankan lebih berhati-hati dalam menggunakan minyak esensial dari tanaman tersebut di area dada.

4. Mengapa ibu menyusui perlu waspada terhadap penggunaan teh diet atau produk pelangsing herbal?

Banyak teh diet yang mengandung ekstrak lidah buaya bersifat pencahar yang memicu diare dan risiko dehidrasi pada pencernaan bayi. Kandungan stimulan seperti guarana di dalamnya juga berpotensi membuat detak jantung bayi menjadi lebih cepat, sehingga buah hati merasa gelisah dan sulit tidur nyenyak.

5. Apa pilihan nutrisi yang lebih aman dan teruji medis untuk melancarkan ASI dibandingkan ramuan herbal?

Ibu dapat beralih ke PRENAGEN Lactamom yang diformulasikan dengan protein berkualitas dan mikronutrien presisi untuk menjaga kualitas ASI. Produk ini dirancang khusus sebagai solusi aman yang tidak memerlukan Ibu menebak-nebak takaran dosisnya. Dengan asupan yang lezat dan teruji medis, Ibu dapat menyusui dengan tenang dan bahagia.

Referensi:

  • Aragie, T. G., & Afework, M. (2025). Herbal medicine use and associated factors among lactating mothers visiting maternal and child health clinic at Woldia comprehensive specialized hospital, North Wollo Zone, Ethiopia, 2023. Journal of Health Population and Nutrition, 44(1), 198. https://doi.org/10.1186/s41043-025-00875-6
  • Shinde, P., Patil, P., & Bairagi, V. (2012). Herbs in pregnancy and lactation: A review appraisal. International Journal of Pharmaceutical Sciences and Research, 3(9), 3001–3006. https://ijpsr.com/bft-article/herbs-in-pregnancy-and-lactation-a-review-appraisal/
  • Wulandari, N., Sugihantoro, H., Inayatilah, F. R., Atmaja, R. R. D., Budiastutie, M. N. E., & Wardani, W. K. (2020). Gambaran penggunaan galaktagog (obat kimia dan herbal) pada ibu menyusui di Kota Malang. Pharmaceutical Journal of Indonesia, 5(2), 85-90. https://doi.org/10.21776/ub.pji.2020.005.02.3 
  • Tetlow, G. (n.d.). Which herbs are unsafe during breastfeeding? (part 2). Philadelphia Integrative Medicine. https://philly-im.com/unsafe-herbs-during-breastfeeding/
  • National Center for Biotechnology Information. (2021). Drugs and Lactation Database (LactMed): Comfrey. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501773/
  • Shane-McWhorter, L. (2025). Kava. MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/special-subjects/dietary-supplements-and-vitamins/kava
  • Halodoc. (2026). Wajib Tahu! Bahaya Daun Mengkudu Tak Sesederhana Itu. https://www.halodoc.com/artikel/wajib-tahu-bahaya-daun-mengkudu-tak-sesederhana-itu
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/187/2017 Tentang Formularium Ramuan Obat Tradisional Indonesia. https://farmalkes.kemkes.go.id/unduh/kepmenkes-187-2017/ 
  • Guo, X., & Mei, N. (2016). Aloe vera: A review of toxicity and adverse clinical effects. Journal of Environmental Science and Health Part C, 34(2), 77–96. https://doi.org/10.1080/10590501.2016.1166826
  • Mayo Clinic. (2025, March 27). Aloe. https://www.mayoclinic.org/drugs-supplements-aloe/art-20362267
  • Lakin, H., Sheehan, P., & Soti, V. (2023). Maternal caffeine consumption and its impact on the fetus: a review. Cureus, 15(11), e48266. https://doi.org/10.7759/cureus.48266 
  • National Institute of Child Health and Human Development. (2025, July 15). Sage. Drugs and Lactation Database (LactMed®) - NCBI Bookshelf. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK501816/ 
  • Yarnell, E. (1997b). Botanical medicine in pregnancy and lactation. Alternative and Complementary Therapies, 3(2), 93–100. https://doi.org/10.1089/act.1997.3.93

Artikel Terbaru Lainnya

Masa Persiapan
Benarkah Payudara Kecil Produksi ASI Sedikit? Simak Penjelasannya!
Payudara kecil produksi ASI sedikit itu hanya mitos. Temukan fakta produksi ASI dan pentingnya nutrisi untuk mendukung kebutuhan Ibu selama menyusui.
Masa Persiapan
Makanan Ibu Menyusui Bisa Membuat Bayi Putih? Ini Faktanya!
Benarkah makanan ibu menyusui bisa membuat bayi putih? Simak faktanya, faktor yang memengaruhi warna kulit bayi, dan nutrisi untuk menjaga skin barrier.
Masa Persiapan
Apakah Boleh Busui Makan Daging Kambing? Ini Fakta Medisnya
Cari tahu apakah ibu menyusui boleh makan daging kambing, meluruskan mitos ASI panas dan darah tinggi, serta tips olahan sehat untuk ASI lancar.
Masa Persiapan
Aturan Resmi Ibu Menyusui Donor Darah dan Waktu Amannya
Cari tahu bolehkah ibu menyusui donor darah, pedoman waktu resmi dari WHO dan PMI, serta tips nutrisi jaga ASI tetap lancar dan tubuh selalu bugar.
Masa Persiapan
Cara Mengatasi ASI Terlalu Deras Agar Bayi Tidak Tersedak
Pelajari cara mengatasi aliran ASI yang terlalu deras melalui posisi menyusui bersandar (uphill nursing), teknik block feeding, dan bedanya dengan hiperlaktasi kronis.
Masa Persiapan
Cara Support Teman yang Sedang Menyusui Lewat Aksi Nyata
Pelajari cara support teman perempuan yang sedang menyusui lewat langkah praktis di rumah dan kantor agar produksi ASI mereka tetap lancar.

PRENAGEN Club, untuk Moms!

Dengan menjadi member, Moms akan mendapatkan beragam keuntungan seperti program pengumpulan poin berhadiah, promo dan kegiatan menarik, serta bergabung dalam forum diskusi. Ayo bergabung bersama PRENAGEN Club dan nikmati setiap manfaatnya untuk mendukung perjalanan kehamilan dan peran Moms sebagai orang tua.
PRENAGEN