Ibu boleh menjadi pendonor darah minimal 6 bulan setelah persalinan. Namun, Palang Merah Indonesia (PMI) menyarankan untuk menunda hingga 3 bulan setelah masa menyusui benar-benar selesai, demi menjaga kondisi tubuh Ibu tetap prima. Singkatnya, ibu menyusui perlu menunggu hingga memenuhi persyaratan donor darah yang berlaku dan pastikan kondisi fisik ibu juga baik. Tujuannya adalah menjaga kesehatan Ibu dan memastikan tubuh tetap mampu memenuhi kebutuhan nutrisi buah hati selama masa menyusui.
Menurut syarat donor darah dari PMI Jakarta Barat, ibu yang baru melahirkan diminta menunggu 6 bulan pascapersalinan. Jika masih menyusui, Ibu disarankan menunggu 3 bulan setelah benar-benar berhenti menyusui atau menyapih. Pedoman internasional dari World Health Organization (WHO) menyatakan donor darah tidak disarankan saat menyusui. WHO merekomendasikan penundaan hingga 9 bulan pascapersalinan dan minimal 3 bulan setelah bayi mendapatkan sebagian besar nutrisinya dari Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau susu botol (World Health Organization, 2020).
Sebagai pembanding, layanan darah Inggris memperbolehkan donor setelah bayi berusia minimal 6 bulan (NHS Blood and Transplant, n.d.).
Perbedaan pedoman ini menunjukkan bahwa persyaratan donor darah dapat berbeda di setiap layanan darah. Oleh karena itu, Ibu sangat disarankan berkonsultasi langsung dengan dokter atau petugas skrining di unit PMI setempat.
Setelah masa penundaan donor darah berakhir, penting bagi Ibu untuk memastikan kondisi fisik benar-benar siap dan memenuhi persyaratan donor. Langkah ini krusial agar proses donor tidak membebani tubuh, serta memastikan keamanan bagi Ibu maupun bayi. Berikut adalah beberapa syarat kesehatan fisik utama yang wajib dipenuhi sesuai standar PMI:
Saat berdonor, Ibu kehilangan sekitar 350 hingga 450 ml darah. Pada ibu menyusui, kehilangan darah ini dapat menambah beban tubuh, terutama jika ibu memiliki kadar hemoglobin atau cadangan zat besi yang rendah. Tanpa donor pun, ibu menyusui dapat mengalami anemia dan kekurangan zat besi. Mendonorkan darah saaat tubuh masih dalam fase pemulihan dapat meningkatkan risiko kelelahan, sehingga menunda waktu donor adalah langkah yang bijak.
Penting bagi Ibu untuk memahami bahwa selama masa ASI eksklusif, bayi tetap mendapatkan zat besi dari ASI, meskipun kandungan zat besi dalam ASI relatif rendah. Zat besi dalam ASI memiliki tingkat penyerapan yang baik, sehingga tetap berperan dalam memenuhi kebutuhan bayi. Penelitian berjudul "Correlation between hemoglobin levels of mothers and children on exclusive breastfeeding in the first six months of life" juga menunjukkan bahwa kadar hemoglobin Ibu tidak secara langsung berkaitan dengan kadar hemoglobin bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. (Marques dkk., 2016).
Namun, kondisi ini bukan berarti tubuh Ibu harus mengorbankan seluruh cadangan zat besinya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Ibu tetap perlu menjaga kecukupan zat besi dan nutrisi selama menyusui, terutama jika memiliki risiko anemia atau kekurangan zat besi. Oleh karena itu, jika Ibu berencana mendonorkan darah selama masa menyusui, penting untuk memastikan kondisi kesehatan dan kadar hemoglobin sudah memenuhi persyaratan donor serta berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Mendonorkan darah dapat menyebabkan penurunan volume darah sementara dan pada sebagian pendonor dapat memicu reaksi vasovagal, seperti pusing, lemas, atau bahkan pingsan. Pada ibu menyusui, kondisi ini perlu diperhatikan jika ibu belum cukup pulih setelah melahirkan atau mengalami kekurangan cairan. Penelitian berjudul "Influence of breastfeeding on maternal blood pressure at one month postpartum" menunjukkan bahwa ibu yang menyusui memiliki tekanan darah sistolik yang lebih rendah pada satu bulan setelah melahirkan dibandingkan ibu yang memberikan susu formula. Penelitian tersebut juga membahas kemungkinan peran hormon oksitosin dalam perubahan tekanan darah selama menyusui (Ebina & Kashiwakura, 2012).
Oleh karena itu, Ibu yang ingin mendonorkan darah perlu memastikan kondisi tubuh benar-benar siap, cukup makan dan minum sebelum donor, serta mengikuti anjuran petugas kesehatan. Persiapan hidrasi yang baik juga dapat membantu mengurangi risiko reaksi vasovagal selama atau setelah donor darah.
Memperbanyak air putih dan meningkatkan asupan PROTEIN adalah dua hal penting sebelum dan sesudah Ibu berdonor. Keduanya membantu tubuh mengembalikan volume cairan dan mendukung proses pemulihan tubuh setelah donor darah. Sebagai panduan, minum setidaknya 500 ml air tambahan sebelum donor, lalu lanjutkan hidrasi yang cukup setelahnya untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan mendukung kelancaran menyusui. Memperhatikan nutrisi dan istirahat yang cukup sangat penting bagi ibu menyusui untuk membantu proses kehilangan darah. Perbanyak juga konsumsi makanan sumber zat besi dan protein, seperti daging merah, ikan, telur, kacang-kacangan, serta sayuran hijau. Jika memungkinkan, delegasikan sejenak tugas mengasuh bayi kepada pasangan agar Ibu bisa beristirahat dengan cukup.
Sebagai pendamping harian, PRENAGEN Lactamom dapat menjadi asupan nutrisi tambahan selama masa menyusui, termasuk setelah berdonor. Produk ini hadir untuk mendukung asupan gizi harian, bukan sebagai pengganti makanan utama atau penanganan medis. PRENAGEN Lactamom diformulasikan dengan PROTEIN berkualitas, zat besi, and kalsium yang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi Ibu. Asupan ini dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang selama masa laktasi. Pelajari lebih lanjut keunggulan formulanya di sini: PRENAGEN Lactamom
Pastikan tubuh Ibu selalu dalam kondisi prima, terhidrasi dengan baik, dan mendapatkan nutrisi yang cukup setiap hari. Saat kebutuhan nutrisi dan energi terpenuhi, aktivitas sehari-hari dan proses menyusui pun dapat terasa lebih nyaman. Mematuhi pedoman PMI dan WHO tentang waktu aman donor adalah bentuk Ibu memprioritaskan keselamatan diri dan tumbuh kembang buah hati.
Referensi