Gaya Hidup

Aturan Resmi Ibu Menyusui Donor Darah dan Waktu Amannya

Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis Obgyn untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.

dr. Aditya Nugroho

Aditya Nugroho adalah seorang Health Communicatior di PT Sanghiang Perkasa (Kalbe Consumer Health). Beliau merupakan lulusan Pendidikan Kedokteran 2021 dari Universitas Gadjah Mada (UGM). Selain itu, Aditya Nugroho juga dikenal aktif memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Aturan Resmi Ibu Menyusui Donor Darah dan Waktu Amannya

Ibu menyusui diperbolehkan melakukan donor darah, dengan catatan bayi sudah berusia minimal 6 bulan (lulus ASI Eksklusif/sudah mulai MPASI) dan masa persalinan telah lewat minimal 6 bulan. Selain usia bayi, Ibu wajib memenuhi syarat kesehatan medis standar PMI dan WHO, seperti kadar hemoglobin (Hb) normal dan tidak mengalami anemia. Donor darah yang dilakukan saat syarat medis terpenuhi tidak akan mengurangi kualitas maupun jumlah produksi ASI Ibu.

Perbedaan Pedoman Waktu Donor PMI dan WHO

Menurut syarat donor darah dari PMI Jakarta Barat, ibu yang baru melahirkan diminta menunggu 6 bulan pascapersalinan. Jika masih menyusui, Ibu disarankan menunggu 3 bulan setelah benar-benar berhenti menyusui atau menyapih. Pedoman internasional dari World Health Organization (WHO) menyatakan donor darah tidak disarankan saat menyusui. WHO merekomendasikan penundaan hingga 9 bulan pascapersalinan dan minimal 3 bulan setelah bayi mendapatkan sebagian besar nutrisinya dari Makanan Pendamping ASI (MPASI) atau susu botol (World Health Organization, 2020).

Sebagai pembanding, layanan darah Inggris memperbolehkan donor setelah bayi berusia minimal 6 bulan (NHS Blood and Transplant, n.d.).

Perbedaan pedoman ini menunjukkan bahwa persyaratan donor darah dapat berbeda di setiap layanan darah. Oleh karena itu, Ibu sangat disarankan berkonsultasi langsung dengan dokter atau petugas skrining di unit PMI setempat.

Syarat Kesehatan Fisik Sesuai Standar PMI

Setelah masa penundaan donor darah berakhir, penting bagi Ibu untuk memastikan kondisi fisik benar-benar siap dan memenuhi persyaratan donor. Langkah ini krusial agar proses donor tidak membebani tubuh, serta memastikan keamanan bagi Ibu maupun bayi. Berikut adalah beberapa syarat kesehatan fisik utama yang wajib dipenuhi sesuai standar PMI:

  • Kadar hemoglobin harus berada dalam batas yang dipersyaratkan, yaitu 12,5 hingga 17,0 gr/dL. Selain itu, tekanan darah harus dalam rentang yang dapat diterima untuk donor, yaitu tekanan darah sistol 100–180 mmHg dan tekanan darah diastol 70–100 mmHg (perlu diingat bahwa 180/100 adalah batas atas yang diizinkan dan bukan kondisi normal), untuk memastikan tubuh sanggup menjalani proses donor.
  • Berat badan minimal adalah 45 kilogram (standar PMI) atau minimal 50 kilogram (berdasarkan pedoman WHO) untuk membantu menjaga keseimbangan volume cairan tubuh.
  • Meskipun masa penundaan sudah terlewati, lolos skrining kesehatan fisik tetap menjadi syarat yang tidak bisa ditawar untuk melindungi Ibu dari risiko kesehatan setelah donor.

 

Syarat Medis Donor Darah untuk Ibu Menyusui

Berikut ringkasan syarat kesehatan yang wajib dipenuhi Ibu menyusui sebelum mendonorkan darah:

Parameter Kesehatan Standar Syarat Donor Busui Alasan Pertimbangan Medis
Usia Bayi Minimal 6 Bulan (Sudah MPASI) Memastikan bayi tidak lagi bergantung 100% pada ASI eksklusif
Jeda Pasca Melahirkan Minimal 6 Bulan (PMI) / 9 Bulan (WHO) Memberikan waktu bagi tubuh Ibu untuk memulihkan cadangan zat besi
Kadar Hemoglobin (Hb) Minimal 12,5 g/dL Mencegah risiko pusing, lemas, dan anemia pada Ibu
Berat Badan Ibu Minimal 45 kg Memastikan volume darah tubuh aman untuk diambil (sekitar 350 ml)
Tekanan Darah & Nadi Sistolik 110–160 mmHg, Nadi 50–100x/mnt Memastikan kondisi sirkulasi jantung dan pembuluh darah stabil

 

Alasan Medis di Balik Aturan Waktu Donor

Saat berdonor, Ibu kehilangan sekitar 350 hingga 450 ml darah. Pada ibu menyusui, kehilangan darah ini dapat menambah beban tubuh, terutama jika ibu memiliki kadar hemoglobin atau cadangan zat besi yang rendah. Tanpa donor pun, ibu menyusui dapat mengalami anemia dan kekurangan zat besi. Mendonorkan darah saaat tubuh masih dalam fase pemulihan dapat meningkatkan risiko kelelahan, sehingga menunda waktu donor adalah keputusan yang bijak.

ASI Melindungi Zat Besi Bayi, Menguras Cadangan Ibu

Penting bagi Ibu untuk memahami bahwa selama masa ASI eksklusif, bayi tetap mendapatkan zat besi dari ASI, meskipun kandungan zat besi dalam ASI relatif rendah. Zat besi dalam ASI memiliki tingkat penyerapan yang baik, sehingga tetap berperan dalam memenuhi kebutuhan bayi. Penelitian berjudul "Correlation between hemoglobin levels of mothers and children on exclusive breastfeeding in the first six months of life" juga menunjukkan bahwa kadar hemoglobin Ibu tidak secara langsung berkaitan dengan kadar hemoglobin bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. (Marques dkk., 2016).

Namun, kondisi ini bukan berarti tubuh Ibu harus mengorbankan seluruh cadangan zat besinya untuk memenuhi kebutuhan bayi. Ibu tetap perlu menjaga kecukupan zat besi dan nutrisi selama menyusui, terutama jika memiliki risiko anemia atau kekurangan zat besi. Oleh karena itu, jika Ibu berencana mendonorkan darah selama masa menyusui, penting untuk memastikan kondisi kesehatan dan kadar hemoglobin sudah memenuhi persyaratan donor serta sudah berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Risiko Pingsan Akibat Tekanan Darah yang Menurun

Mendonorkan darah dapat menyebabkan penurunan volume darah sementara dan pada sebagian pendonor dapat memicu reaksi vasovagal, seperti pusing, lemas, atau bahkan pingsan. Pada ibu menyusui, kondisi ini perlu diperhatikan jika ibu belum cukup pulih setelah melahirkan atau mengalami kekurangan cairan. Penelitian berjudul "Influence of breastfeeding on maternal blood pressure at one month postpartum" menunjukkan bahwa ibu yang menyusui memiliki tekanan darah sistolik yang lebih rendah pada satu bulan setelah melahirkan dibandingkan ibu yang memberikan susu formula. Penelitian tersebut juga membahas kemungkinan peran hormon oksitosin dalam perubahan tekanan darah selama menyusui (Ebina & Kashiwakura, 2012). 

Oleh karena itu, Ibu yang ingin mendonorkan darah perlu memastikan kondisi tubuhnya benar-benar siap, cukup makan dan minum sebelum donor, serta mengikuti anjuran petugas kesehatan. Status hidrasi yang baik juga dapat membantu mengurangi risiko reaksi vasovagal selama atau setelah donor darah.

Apakah Donor Darah Memengaruhi Jumlah dan Kualitas Produksi ASI?

Kekhawatiran utama para Ibu adalah berkurangnya produksi ASI pasca-donor darah. Secara medis, proses donor darah hanya mengambil cairan dan sel darah dari pembuluh darah vena, bukan mengambil kelenjar atau hormon pembuat ASI (prolaktin dan oksitosin).

Tubuh Ibu akan secara alami memproduksi kembali volume cairan darah yang hilang dalam waktu 24–48 jam. Selama Ibu menjaga asupan cairan harian dan cukup istirahat, produksi ASI akan tetap lancar dan nutrisinya tetap terjaga dengan baik.

 

Persiapan dan Nutrisi Pemulihan Pasca Donor

Memperbanyak air putih dan meningkatkan asupan PROTEIN adalah dua hal penting sebelum dan sesudah Ibu berdonor. Keduanya membantu tubuh mengembalikan volume cairan dan mendukung proses pemulihan tubuh setelah donor darah. Sebagai panduan, minum setidaknya 500 ml air tambahan sebelum donor, lalu pastikan hidrasi yang cukup setelahnya untuk membantu menjaga kondisi tubuh dan mendukung kelancaran menyusui. Selain hidrasi, pastikan Ibu mendapatkan asupan nutrisi yang cukup dan beristirahat dengan baik untuk mendukung proses pemulihan setelah kehilangan darah. Perbanyak juga konsumsi makanan sumber zat besi dan protein, seperti daging merah, ikan, telur, kacang-kacangan, serta sayuran hijau. Jika memungkinkan, mintalah bantuan pasangan untuk mengambil alih sementara tugas mengasuh bayi agar Ibu dapat beristirahat dengan cukup. 

PRENAGEN Lactamom sebagai Asupan Nutrisi Tambahan untuk Mendukung Pemulihan Ibu

Sebagai pendamping harian, PRENAGEN Lactamom dapat menjadi asupan nutrisi tambahan selama masa menyusui, termasuk setelah berdonor. Produk ini hadir untuk mendukung asupan gizi harian. PRENAGEN Lactamom diformulasikan dengan PROTEIN berkualitas, zat besi, and kalsium yang membantu memenuhi kebutuhan nutrisi Ibu. Asupan ini dapat menjadi bagian dari pola makan bergizi seimbang selama masa laktasi. Pelajari lebih lanjut keunggulan formulanya di sini: PRENAGEN Lactamom

Pastikan tubuh Ibu selalu dalam kondisi prima, terhidrasi dengan baik, dan mendapatkan nutrisi yang cukup setiap hari. Saat kebutuhan nutrisi dan energi terpenuhi, aktivitas sehari-hari dan proses menyusui pun dapat terasa lebih nyaman. Mematuhi pedoman PMI dan WHO tentang waktu aman donor adalah bentuk Ibu memprioritaskan keselamatan diri dan tumbuh kembang buah hati. 

Referensi

  • Palang Merah Indonesia Jakarta Barat. (n.d.). Syarat Donor Darah. http://pmijakartabarat.or.id/syarat-donor-darah
  • World Health Organization. (2020). Who can give blood. https://www.who.int/campaigns/world-blood-donor-day/2020/who-can-give-blood
  • NHS Blood and Transplant. (n.d.). Breastfeeding and pregnancy. https://my.blood.co.uk/eligibility/health/article/?id=00053p32
  • Basrowi, R. W., Zulfiqqar, R., & Sitorus, R. (2024). Anemia in breastfeeding women and its impact on offspring’s health in Indonesia: A narrative review. https://doi.org/10.3390/nu16091285
  • Marques, R. F., Lopez, F. A., Silva, M. M., & Almeida, C. A. (2016). Correlation between hemoglobin levels of mothers and children on exclusive breastfeeding in the first six months of life. Jornal de Pediatria, 92(2), 174-179. https://doi.org/10.1016/j.jped.2015.11.006
  • Ebina, T., & Kashiwakura, I. (2012). Influence of breastfeeding on maternal blood pressure at one month postpartum. Journal of Nursing and Midwifery Research. https://doi.org/10.2147/IJWH.S33379
  • World Health Organization. (2014). Blood donor counselling: Implementation guidelines. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK310577/
  • World Health Organization. (2012). Blood donor selection: Guidelines on assessing donor suitability for blood donation. https://iris.who.int/bitstream/10665/76724/1/9789241548519_

Artikel Terbaru Lainnya

Masa Persiapan
Pompa ASI yang Bagus Itu Seperti Apa? Cek di Sini
Bingung mencari pompa ASI yang bagus? Simak perbandingan pompa manual, elektrik, dan wearable, serta panduan memilih ukuran corong yang nyaman di sini!
Masa Persiapan
Penyebab Bayi Marah Saat Menyusu dan Cara Menenangkannya
Bingung mencari penyebab bayi marah saat menyusu? Kenali tanda-tanda pelekatan kurang pas, masalah aliran ASI, dan cara tepat menenangkannya di sini!
Masa Persiapan
Cara Membangunkan Bayi untuk Menyusu dengan Lembut
Bayi baru lahir tidur saat waktunya menyusu? Pelajari cara membangunkan bayi untuk menyusu dengan lembut, serta jadwal dan tanda bahaya yang perlu diwaspadai.
Masa Persiapan
Ibu Menyusui Bisa Hamil Meski Belum Haid? Ini Faktanya
Bingung apakah ibu menyusui bisa hamil walau belum haid? Cek fakta medis dan pengaruh ASI eksklusif terhadap masa subur Ibu setelah melahirkan!
Masa Persiapan
Kulit Bayi Sensitif, Amankah Ibu Minum PRENAGEN Lactamom?
Kulit bayi sensitif, amankah Ibu tetap minum PRENAGEN Lactamom? Kenali beda kulit kering biasa dan gejala alergi susu sapi lewat ASI.
Masa Persiapan
Bayi Cukup ASI atau Tidak? Ini Tanda dan Cara Ceknya
Cek tanda bayi cukup ASI dari frekuensi pipis pup, tabel kenaikan berat badan bayi ASI eksklusif standar WHO KMS, dan ciri dehidrasi di sini.

PRENAGEN Club, untuk Moms!

Dengan menjadi member, Moms akan mendapatkan beragam keuntungan seperti program pengumpulan poin berhadiah, promo dan kegiatan menarik, serta bergabung dalam forum diskusi. Ayo bergabung bersama PRENAGEN Club dan nikmati setiap manfaatnya untuk mendukung perjalanan kehamilan dan peran Moms sebagai orang tua.
PRENAGEN