Masa Persiapan

Pahami dan Waspadai Penyakit Kuning Pada Bayi

Ditulis oleh: Prenagen Writer

Pahami dan Waspadai Penyakit Kuning Pada Bayi

Pigmen bernama bilirubin adalah faktor penyebab dari bayi kuning (ikterus) yang harus di kenali dan waspadai. Sebenarnya, setiap orang memiliki bilirubin dalam sel darah merahnya. Setiap jangka waktu tertentu sel darah merah akan mati dan menguraikan sel-selnya diantaranya bilirubin.

Normalnya yang bertugas menguraikan bilirubin tersebut adalah hati, untuk kemudian dibuang lewat BAB. Saat bayi masih dalam kandungan, hati sang ibu lah yang bertugas menguraikan bilirubin dalam sel darah merah sang bayi. Ketika bayi lahir, perkembangan hatinya belum sempurna sehingga belum dapat menjalankan fungsinya dengan baik. Akibatnya terjadi penumpukan bilirubin yang kemudian menyebabkan timbulnya warna kuning pada kulit bayi.

Baca Juga: 6 Manfaat Berenang Untuk Bayi Tercinta

Sebab timbulnya penyakit kuning pada bayi adalah ketidakcocokan golongan darah ibu dan bayi. Ikterus pada bayi yang baru lahir bersifat patologik dikenal sebagai hiperbilirubinemia yang dapat mengakibatkan gangguan saraf pusat atau kematian. Untuk pemeriksaan gejala bayi kuning dirumah adalah dengan membawa bayi ke dalam ruangan yang memiliki penerangan yang jelas atau dengan lampu fluorescent. Bila kulit bayi tergolong putih, tekanlah jari anda secara perlahan-perlahan ke bagian dahi, dada, telapak tangan dan telapak kaki. Kemudian angkat tangan anda dan perhatikan adakah semburat warna kuning pada bagian tubuh bayi yang ditekan tadi. Bila kulit bayi tergolong hitam, paling jelas bisa diteliti pada gusi atau bagian putih di area mata.

Untuk mengklasifikasikan penyakit kuning pada bayi dapat dilihat dari gejala-gejalanya yaitu:

  • ikterus fisiologi (ringan)
  • Timbul kuning pada umur >24 jam sampai <14 hari
  • Kuning tidak sampai telapak tangan / telapak kaki.
  • Ikterus patologis (berat)
  • Timbul kuning pada hari pertama (<24 jam) setelah lahir, atau
  • Kuning ditemukan pada umur lebih dari 14 hari, atau
  • Kuning sampai telapak tangan / telapak kaki, atau
  • Tinja berwarna pucat

Cara Mengatasi

Untuk mengatasi penyakit kuning pada bayi, tindakan medis yang dilakukan adalah dengan fototerapi. Yaitu melakukan penyinaran berwarna biru pada tubuh bayi. Sinar biru yang diserap oleh kulit bayi dapat memecah bilirubin sehingga dapat dikeluarkan melalui urin. Sementara untuk perawatan di rumah, orang tua dapat menggunakan sinar matahari sebagai pengganti fototerapi. Saran terbaik adalah dengan menjemur tubuh bayi, khususnya bagian dada, punggung, dan perut bayi dibawah sinar matahari.

Ada dua hal penting yang harus diperhatikan oleh orang tua saat menjemur bayi, yaitu:

  1. Waktu yang tepat untuk menjemur bayi adalah pada saat matahari mulai naik, tetapi tidak terlalu terik yaitu sekitar jam 8 sampai 9 pagi. Pakaian bayi dapat dilepas, tetapi selimut juga diperlukan untuk menjaga bayi dari kedinginan saat cuaca sedang berangin.

    Meskipun bagian wajah dan mata bayi berwarna kuning dan memerlukan sinar matahari, sebaiknya mata terhindar dari kontak langsung dengan sinar matahari. Posisi terbaik adalah bayi terlentang atau tengkurap membelakangi matahari, sehingga sinar matahari datang dari belakang kepala bayi.
     
  2. Kadar bilirubin perlu diwaspadai jika sudah meningkat menjadi lebih dari 12 mg/dL. Pada kondisi ini bayi perlu mendapatkan fototerapi. Yaitu penyinaran dengan sinar biru berpanjang gelombang 420-448 nanometer untuk mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin.

    Fototerapi cukup aman. Efek samping dari fototerapi relatif ringan. Yaitu berupa kulit kering, dehidrasi ringan, kemerahan (rash) pada kulit bayi yang sensitif, serta diare ringan. Agar bayi tidak silau dan terganggu, mata bayi perlu ditutup.

    Kadar bilirubin di bawah 20 mg/dL biasanya tidak berakibat fatal. Namun, orangtua harus waspada. Jika kadar bilirubin sudah lebih dari 25 mg/dL, fototerapi tidak cukup. Bayi perlu mendapat transfusi tukar darah (exchange transfusion) beberapa kali.

    Pada kadar bilirubin lebih dari 30 mg/dL biasanya bayi sulit tertolong. Bilirubin meracuni mata yang bisa berakibat kebutaan, pada telinga berakibat ketulian, dan pada otak ditandai kejang karena bayi mengalami enselopati akibat bilirubin (kernikterus). Kondisi ini bisa menimbulkan kecacatan, penurunan kecerdasan pada anak, bahkan kematian.

    Kuning biasanya terjadi setelah 2-4 hari bayi dilahirkan. Saat itu, sel darah merah mulai diurai untuk digantikan dengan sel darah merah baru. Kadar bilirubin akan meningkat, kemudian berangsur-angsur turun dalam dua minggu sampai sebulan.

    Jika kuning sudah terlihat di hari pertama, demikian Nita, bayi perlu pemeriksaan intensif karena dikhawatirkan kuning yang terjadi bersifat patologis, yaitu akibat infeksi atau penyakit lain. Misalnya, penyakit hemolitik (penguraian sel darah merah yang tidak normal), infeksi virus (toksoplasma, rubela, campak), penyakit metabolik, serta tersumbatnya kantong empedu.

Baca Juga: Bayi Cegukan? Inilah Penyebabnya dan Cara Mengobatinya

Gejala kuning bisa dilihat pada wajah dan bagian tubuh lain, pada kulit jika ditekan berwarna kuning, ataupun bagian putih mata bayi menjadi kuning. Pada kadar bilirubin tinggi, bayi akan mengalami demam, menjadi loyo, dan tidak bernafsu minum susu.