Masa Menyusui

Toxic Parenting: Pengertian, dan Ciri-Ciri yang Menjelaskannya

Ditulis oleh: Amicis

Toxic Parenting: Pengertian, dan Ciri-Ciri yang Menjelaskannya

Sudah sepantasnya anak lahir dalam keluarga yang bahagia serta mendapatkan kasih sayang yang cukup dari orang tuanya. Anak tumbuh menjadi anak yang sehat baik secara jiwa maupun raga. Namun faktanya, banyak sekali anak-anak yang tumbuh di lingkungan keluarga dengan kondisi orang tua yang kasar, semena-mena, serta ‘meracuni’ mental anak baik secara fisik maupun psikis. Istilah untuk orang tua dengan kondisi tersebut adalah toxic parents.

Namun jangan salah kaprah, Bu. Pasalnya I-istilah toxic parents tidak hanya diperuntukkan bagi orang tua yang memiliki perilaku buruk serta melakukan tindakan-tindakan kasar secara fisik terhadap anak. Toxic parents juga berlaku untuk orang tua yang tanpa sadar melakukan kekerasan verbal yang merusak dan meracuni psikologis anak. Jenis toxic parents yang kedua ini lebih berbahaya, karena tidak terlihat dengan kasat mata serta jarang disadari oleh para orang tua.

Baca Juga: Apa Itu Parenting Anak? Prinsip, dan Tips yang Perlu Diketahui

Sangat mungkin orang tua tampak normal, tetap memberikan kebutuhan anak, tidak menyakiti secara fisik, mencintai anak sepenuhnya, serta menginginkan yang terbaik untuk anak. Namun, terdapat sikap dan perilaku orang tua yang secara diam-diam menjadi ‘racun’ dalam untuk mental dan kepribadian anak.

Tentunya semua orang tua menginginkan yang terbaik untuk anak. Tidak ada orang tua yang sengaja ingin membuat anaknya sedih, sakit, dan menderita baik secara mental maupun psikis. Namun tentu saja orang tua hanyalah manusia biasa yang kerap memiliki salah dan apa. Orang tua bisa berbuat salah yang mengakibatkan mental anak menjadi lemah, bahkan rusak.

Ingin tahu lebih lanjut mengenai toxing parents dan pola parenting yang menjadi racun bagi anak? Simak ulasan berikut ini, Bu.

Apa Itu Toxic Parenting?

Toxic parenting merupakan pola pengasuhan yang keliru dan tanpa sadar dapat melukai psikologis anak. Pola pengasuhan tersebut kerap dilakukan oleh orang tua yang umumnya kasar, tidak dewasa, serta memiliki gangguan mental. Biasanya orang tua yang seperti ini juga mengalami toxic parenting atau pola pengasuhan yang salah dari orang tuanya dulu. Namun toxic parenting dapat juga dilakukan oleh orang tua normal yang tanpa sadar menjadi ‘racun’ bagi psikologis anak.

Apa Itu Toxic Parent?

Jika toxic parenting merupakan pola pengasuhan yang keliru dan meracuni anak, maka toxic parents merupakan orang tua yang melakukan tindakan-tindakan tertentu yang tanpa sadar dapat membebani psikologis anak.

Orang tua yang menjadi racun atau toxic dapat mengakibatkan luka psikologis atau luka pengasuhan pada anak, baik sekarang maupun di masa depan. Orang tua yang tanpa sadar menerapkan toxic parenting umumnya mengedepankan keinginan pribadi, mengatur anak semaunya sendiri, tidak menghargai perasaan serta pendapat anak, dan tidak memandang bahwa anak memiliki hak atas kehidupannya sendiri.

Ciri-Ciri Toxic Parents

Dampak dari orang tua yang toxic dapat bertahan sangat lama, bahkan hingga anak dewasa nanti. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk menghindari perilaku toxic parenting yang merusak anak.

Baca Juga: Anak Masih Ngompol? Lakukan Cara-Cara Berikut!

Lantas apa saja ciri-ciri orang tua toxic parents? Simak ya, Bu!

  1. Memiliki Ekspektasi Berlebihan

    Ciri toxic parents yang pertama adalah orang tua memiliki ekspektasi yang berlebihan terhadap kehidupan dan masa depan anak. Tanda toxic parents ini paling sering terjadi dan hampir semua orang tua pernah melakukannya. Misalnya, ketika anak-anak ingin menjadi musisi, orang tua kemudian menyetir anak untuk menjadi apa yang orang tua inginkan. Orang tua membuyarkan mimpi anak menjadi musisi dengan memberikan komentar negatif mengenai musisi.

    Ekspektasi yang berlebihan dari orang tua mengenai masa depan anak rupanya secara diam-diam dapat melukai psikologis anak. Namun dalam pikiran orang tua, ekspektasi tersebut untuk kebaikan anak. Anak akan bahagia jika menuruti apa yang telah orang tua rencanakan untuk mereka.

    Sayangnya, ekspektasi berlebihan tanpa memikirkan posisi anak dapat membuat anak-anak terbebani dan akhirnya menjadi racun. Dan pola pengasuhan seperti ini kerap ditemukan pada pola parenting konvensional yang dilakukan oleh orang tua terdahulu. Jadi sudah saatnya kita memutus mata rantai pola pengasuhan seperti ini, Bu!
  2. Membicarakan Keburukan di Depan Anak

    Ciri toxic parents selanjutnya adalah orang tua membicarakan dan membahas keburukan anak di hadapannya. Jika hal ini terjadi, anak akan kehilangan kepercayaan diri, rendah diri, dan anak merasa dipermalukan.

    Meskipun keburukan tersebut tidak secara langsung diungkap di depan anak, namun jika ia mendengar orang tua membicarakan keburukan tersebut kepada orang lain, tentunya anak akan menjadi malu. Ia akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak percaya diri.
  3. Membentak Anak

    Terkadang, orang tua juga kerap ‘kelepasan’ membentak anak ketika sedang marah. Bahkan ada juga orang tua yang menggunakan senjata membentak agar anak nurut dan disiplin. Padahal. cara tersebut justru salah. Jika terus menerus dilakukan, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar dan pemarah.

    Mendisiplinkan anak dengan bentakan dan kemarahan tidak akan membuat anak menjadi takut dan nurut. Sebaliknya, tindakan tersebut dapat menjadi racun dalam pribadi anak di masa depan.
  4. Egois

    Ciri toxic parents selanjutnya adalah egois. Dalam hal ini, orang tua selalu mengukur sesuatu dengan perasaannya sendiri, tanpa memikirkan perasaan anak. Orang tua dengan tipe ini kerap mengasihani diri sendiri, seolah-olah perilaku anak yang tidak menurut membuat orang tua menderita.

    Padahal, belum tentu anak tidak menurut karena membangkang. Bisa jadi dia hanya tidak dapat mengungkapkan keinginan dan perasaannya saja. Disinilah peran orang tua untuk membiasakan anak agar dapat mengungkapkan keinginan dengan cara yang baik.
  5. Mengungkit Biaya-biaya

    Ada juga orang tua yang terlihat ‘pamrih’ di hadapan anak. Orang tua selalu mengungkit tentang besarnya biaya yang telah dikeluarkan untuk membesarkan dan memenuhi kebutuhan anak. Hal ini dijadikan senjata agar anak menurut dan mengikuti kemauan orang tua. Tanpa terasa, hal ini dapat menjadi racun yang membebani anak.

    Orang tua memang telah berkorban banyak untuk masa depan anak, namun tentu saja anak diperbolehkan untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Hindari memaksa anak untuk menjadi apa yang orangtua inginkan. Karena jika hal ini sudah dirasakan oleh anak sejak kecil, maka anak akan rentan terhadap stres karena hidupnya terbebani.

Baca Juga: 5 Rekomendasi Film Anak yang Mendidik

Menjadi orang tua memang tidak semudah yang dipikirkan. Terlebih kita juga merupakan produk pengasuhan orang tua zaman dahulu yang bisa saja termasuk toxic parenting. Oleh karena itu penting bagi Ibu untuk selalu ‘sadar’ dalam mengasuh dan membesarkan si kecil. Usahakan tetap waras dengan memiliki waktu me time agar si kecil tidak mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari orang tua. Membaca literasi mengenai parenting juga dapat membantu orang tua untuk selalu waras dalam membersamai anak lho, Bu!