Bayi baru lahir umumnya perlu menyusu 8–12 kali dalam 24 jam, atau sekitar setiap 2–3 jam. Jika bayi masih tidur, Ibu mungkin perlu membangunkannya untuk menyusu, terutama jika berat badannya belum kembali ke berat lahir. Kebutuhan dan waktu menyusu setiap bayi bisa berbeda, jadi sesuaikan dengan kondisi buah hati dan arahan tenaga kesehatan.
Wajar jika Ibu merasa tidak tega membangunkan buah hati yang sedang tidur nyenyak. Namun, menyusu secara teratur penting untuk memastikan ia mendapat cukup asupan. Ibu bisa membangunkannya secara perlahan dengan cara yang lembut, sambil memperhatikan responsnya.
Langkah berikut dapat dicoba untuk membantu membangunkan buah hati sebelum waktu menyusu. Lakukan secara perlahan, lalu perhatikan apakah ia mulai bergerak atau menunjukkan keinginan menyusu.
Dekati buah hati dan panggil dengan suara tenang. Ibu dapat mengusap punggung, lengan, atau kakinya secara perlahan untuk membantu membangunkannya. Sentuhan lembut merupakan salah satu cara yang dapat dicoba ketika bayi mengantuk saat waktunya menyusu.
Perhatikan apakah buah hati mulai menggerakkan tubuh, mengecap bibir, atau mencari payudara. Gerakan tersebut dapat menjadi tanda awal lapar, sehingga Ibu tidak perlu menunggu sampai ia menangis untuk menawarkan ASI. Hindari mengguncang tubuh, mencubit, atau memberikan rangsangan yang menyakitkan.
Jika buah hati masih mengantuk, Ibu dapat mengurangi lapisan pakaiannya seperlunya. Membuka sebagian pakaian atau mengganti popok dapat membantu bayi lebih terjaga sebelum menyusu. Tetap jaga kenyamanannya dan jangan membiarkan tubuhnya kedinginan.
Segera tawarkan payudara saat buah hati mulai membuka mulut atau mencari sumber ASI. Ibu tidak perlu menunggu ia terbangun sepenuhnya jika sudah menunjukkan kesiapan menyusu. Jangan menggunakan air dingin atau sengaja membuatnya kedinginan untuk membangunkannya.
Ibu dapat menempatkan buah hati yang hanya mengenakan popok di dada telanjang. Kontak kulit ke kulit dapat membantu bayi yang mengantuk menjadi lebih terjaga dan mendorongnya menyusu. Saat ia mulai mencari payudara atau membuka mulut, tawarkan ASI tanpa memaksa kepala maupun mulutnya.
Manfaat kontak kulit ke kulit untuk menyusui juga didukung oleh tinjauan sistematis Moore et al. (2025). Kajian tersebut menemukan bahwa kontak kulit ke kulit segera atau pada awal kehidupan kemungkinan meningkatkan keberhasilan ASI eksklusif. Temuan ini mendukung manfaatnya dalam proses menyusui, tetapi bukan jaminan bahwa setiap bayi yang mengantuk akan langsung terbangun.
Selama melakukannya, pastikan Ibu tetap terjaga dan dapat mengawasi buah hati. Sangga kepala serta tubuhnya, dengan wajah terlihat dan hidung maupun mulut tidak tertutup pakaian atau selimut. Jaga tubuhnya tetap hangat tanpa menghalangi jalan napas.
Kebutuhan membangunkan bayi bergantung pada usia, berat badan, dan kesehatannya. Bayi prematur atau yang mengalami masalah kenaikan berat badan dapat membutuhkan jadwal khusus. Gunakan panduan berikut sambil mengikuti arahan tenaga kesehatan yang memantau buah hati.
| Kondisi Buah Hati | Arahan Menyusu |
|---|---|
| Berat badan belum kembali ke berat lahir | Tawarkan ASI secara rutin, umumnya setiap 2–3 jam. Bangunkan jika tidur terlalu lama, terutama bila sudah lebih dari 4 jam sejak menyusu terakhir. |
| Berat lahir sudah tercapai dan kenaikan berat badan baik | Umumnya boleh menunggu buah hati bangun sendiri dan mengikuti tanda laparnya, selama pertumbuhan tetap baik. |
| Lahir prematur atau memiliki masalah kesehatan maupun kenaikan berat badan | Ikuti jadwal dari tenaga kesehatan. Tanda lapar saja belum tentu cukup untuk menentukan kapan perlu menyusu. |
Khusus bayi prematur akhir, Boies dan Vaucher (2016) menjelaskan bahwa kemampuan untuk tetap terjaga serta mengisap dan menelan belum sematang bayi cukup bulan. Akibatnya, buah hati dapat tampak menyusu meskipun ASI yang diperoleh belum mencukupi. Karena itu, jadwal menyusu dan pemantauan asupannya perlu disesuaikan bersama tenaga kesehatan.
Segera cari pertolongan medis jika buah hati sulit dibangunkan, tidak merespons, atau tampak sangat lemas. Bawa buah hati ke IGD atau hubungi layanan darurat jika mengalami salah satu kondisi berikut:
Ibu tidak perlu menunggu beberapa tanda muncul sekaligus untuk mencari pertolongan. Jika buah hati tidak mau menyusu atau frekuensi menyusunya menurun, segera minta penilaian tenaga kesehatan, terutama jika ia juga menjadi kurang responsif. Hindari memberikan ASI melalui mulut jika buah hati tidak sadar atau tidak mampu menelan.
Selain memperhatikan pola menyusu, pantau juga seberapa sering buah hati buang air kecil melalui jumlah popok yang basah setiap hari serta perkembangan berat badannya. Keduanya dapat membantu Ibu menilai kecukupan asupan buah hati. Untuk mengenali tanda lainnya, pelajari selengkapnya di sini: Tanda dan Cara Cek Bayi Cukup ASI atau Tidak.
Referensi: