Secara medis, terdapat beberapa posisi menyusui yang aman dan umum digunakan untuk bayi baru lahir, yaitu cradle hold, cross-cradle hold, football hold, berbaring menyamping (side-lying), serta bersandar (laid-back nursing). Setiap ibu dapat menemukan posisi yang paling nyaman, karena hal ini sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh ibu serta bagaimana bayi melakukan pelekatan saat menyusu.
Pada hari-hari pertama setelah persalinan, proses menyusui merupakan fase adaptasi bagi ibu dan bayi. Oleh karena itu, pemilihan posisi yang tepat sejak awal menjadi hal yang penting. Selain membantu mencegah keluhan seperti nyeri punggung dan puting lecet pada ibu, posisi yang tepat juga mendukung bayi agar dapat menyusu dengan lebih efektif sehingga kebutuhan nutrisinya tetap terpenuhi dengan baik.
Setelah melahirkan, tubuh ibu secara alami akan menyesuaikan diri untuk mendukung proses menyusui. Pada tahap ini, hormon prolaktin bekerja untuk memproduksi ASI, sementara hormon oksitosin membantu mengeluarkan ASI saat bayi mulai menyusu melalui rangsangan isapan. Memahami proses ini bisa membantu ibu merasa lebih tenang, terutama jika di hari-hari awal ASI belum langsung keluar banyak.
Kelancaran ASI juga sangat dipengaruhi oleh kondisi tubuh dan perasaan ibu. Istirahat yang cukup, asupan gizi yang baik, serta rasa nyaman saat menyusui berperan penting dalam menjaga produksi ASI tetap optimal. Ketika ibu merasa rileks dan nyaman dengan posisi menyusui, tubuh pun lebih mudah merespons sehingga refleks pengeluaran ASI (let-down reflex) dapat bekerja dengan baik untuk memenuhi kebutuhan bayi yang masih sangat kecil di awal kehidupannya.
Memilih cara menyusui harus selalu disesuaikan dengan kondisi pemulihan pasca persalinan. Penggunaan perlengkapan pendukung, seperti bantal menyusui atau kursi bersandaran empuk, sangat direkomendasikan untuk menyangga beban tubuh dan mencegah cedera otot bahu. Berikut adalah teknik posisi menyusui yang direkomendasikan secara medis beserta peruntukannya:
Dalam cradle hold (klasik), bayi diletakkan secara horizontal di atas pangkuan ibu dan disangga oleh lengan yang berada di sisi yang sama dengan payudara. Seluruh tubuh bayi diarahkan menghadap penuh ke dada ibu agar proses menyusu dapat berlangsung dengan nyaman. Posisi ini umumnya lebih sesuai untuk bayi yang sudah lebih stabil dalam melakukan pelekatan.
Hal yang perlu diperhatikan, telinga, bahu, dan pinggul bayi sebaiknya berada dalam satu garis lurus. Penyelarasan ini membantu proses menelan ASI menjadi lebih lancar sekaligus mencegah leher bayi menekuk atau merasa tidak nyaman saat menyusu.
Cross-cradle hold (menyilang) dilakukan dengan menggunakan tangan yang berlawanan dari sisi payudara untuk menopang kepala dan leher bayi secara penuh. Teknik ini memberikan kontrol yang lebih baik dalam membantu mengarahkan mulut bayi ke area areola, sehingga sering direkomendasikan terutama untuk bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah.
Selain itu, tangan ibu di sisi yang sama dengan payudara dapat digunakan untuk menopang payudara dari bawah, membentuk seperti huruf C atau U. Cara ini membantu bayi lebih mudah mencapai pelekatan yang tepat pada areola, sehingga proses menyusui dapat berlangsung lebih efektif dan nyaman.
Pada football hold (mengapit), bayi diposisikan di sisi tubuh ibu, tepat di bawah ketiak. Kaki bayi mengarah ke bagian belakang tubuh ibu, sementara kepala bayi ditopang menggunakan tangan ibu. Posisi ini tidak memberikan tekanan pada area perut sehingga sering direkomendasikan bagi ibu yang baru menjalani operasi caesar.
Untuk membantu kenyamanan, ibu dapat menggunakan bantal menyusui di bawah tubuh bayi agar posisinya sejajar dengan payudara. Dengan begitu, ibu tidak perlu membungkuk saat menyusui, sehingga dapat mengurangi risiko nyeri pada punggung dan menjaga postur tubuh tetap lebih nyaman.
Posisi ini dilakukan dengan cara ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Berdasarkan penelitian Puapornpong et al. (2017) dalam jurnal Breastfeeding Medicine, posisi ini memberikan tingkat kenyamanan yang tinggi serta membantu mengurangi kelelahan fisik, sehingga sangat direkomendasikan terutama bagi ibu yang baru menjalani persalinan caesar.
Untuk menjaga keamanan dan memastikan bayi tetap berada pada posisi miring yang stabil menghadap payudara, ibu dapat menggunakan gulungan handuk atau bantal kecil yang diletakkan di belakang punggung bayi sebagai penopang.
Posisi laid-back nursing (bersandar) dilakukan dengan cara ibu bersandar rileks pada sudut sekitar 45 derajat menggunakan bantuan bantal untuk menopang tubuh. Dalam posisi ini, bayi diletakkan tengkurap di atas dada ibu sehingga dapat mencari sendiri posisi pelekatan yang paling nyaman.
Berdasarkan analisis oleh Wang et al. (2021), posisi laid-back terbukti dapat menurunkan risiko nyeri atau trauma pada puting, sekaligus membantu bayi mendapatkan pelekatan yang lebih baik. Secara fisiologis, posisi ini juga memanfaatkan bantuan gravitasi untuk mengatur aliran ASI yang terlalu deras, sehingga bayi lebih nyaman saat menyusu dan dapat mengurangi risiko tersedak.
Keberhasilan proses laktasi tidak hanya bergantung pada posisi penopang tubuh, tetapi juga pada keakuratan mulut bayi saat menempel pada payudara. Menurut Cadwell (2007) pada Journal of Midwifery & Women's Health, pelekatan yang benar mensyaratkan Buah Hati untuk memasukkan sebagian besar area areola bagian bawah ke dalam rongga mulutnya, bukan hanya bagian puting saja.
Untuk memastikan pelekatan berjalan dengan baik, Ibu bisa menerapkan langkah-langkah berikut:
Pada awal masa menyusui, beberapa tantangan seperti puting lecet atau payudara terasa bengkak (engorgement) cukup sering terjadi dan umumnya berkaitan dengan teknik pelekatan yang belum tepat. Menurut Colson et al. (2008) dalam Early Human Development, pendekatan berbasis insting neurobehavioral atau biological nurturing, misalnya dengan meletakkan bayi tengkurap di dada ibu, dapat membantu mempermudah proses pelekatan dan mengurangi kesulitan di awal menyusui.
Jika ibu mengalami lecet ringan pada area puting, mengoleskan beberapa tetes ASI setelah menyusui dapat membantu proses pemulihan secara alami karena kandungan ASI yang mendukung penyembuhan jaringan. Namun, apabila keluhan berlanjut seperti nyeri hebat, kesulitan pelekatan, atau muncul tanda infeksi seperti demam, sebaiknya segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan atau konselor laktasi agar mendapatkan penanganan yang tepat.
Setelah ibu menemukan posisi menyusui yang nyaman dan nyeri mulai berkurang, langkah berikutnya adalah menjaga kelancaran produksi ASI, baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Produksi ASI bekerja dengan prinsip supply and demand, semakin sering payudara dikosongkan secara efektif melalui pelekatan yang baik, semakin kuat sinyal yang dikirimkan tubuh untuk terus memproduksi ASI sesuai kebutuhan bayi.
Dengan dukungan asupan nutrisi yang tepat, ibu dapat lebih optimal dalam menjaga produksi ASI sekaligus mempertahankan kondisi tubuh tetap fit selama masa menyusui. Keseimbangan nutrisi dari makanan sehari-hari, ditambah dukungan nutrisi susu khusus untuk ibu menyusui yang diformulasikan lengkap, dapat membantu menjaga kualitas ASI serta kesehatan ibu secara keseluruhan. Untuk informasi lebih lengkap mengenai manfaat dan kandungannya, Ibu dapat melihat di sini: Khasiat PRENAGEN lactamom untuk Ibu dan Buah Hati
Cradle hold dan laid-back nursing termasuk yang paling aman karena membantu pelekatan lebih mudah dan menjaga posisi bayi tetap stabil serta saluran napas tetap terbuka. Namun, posisi terbaik tetap yang paling nyaman untuk Ibu dan bayi.
Ya. Posisi yang tepat membantu pelekatan pada areola menjadi optimal, yang merangsang hormon oksitosin untuk memperlancar keluarnya ASI. Ini juga membantu pengosongan payudara lebih efektif sehingga produksi ASI terjaga.
Tanda utamanya adalah puting tidak terasa nyeri, bayi menyusu dengan isapan dan menelan yang ritmis, tubuh bayi menghadap Ibu tanpa menoleh, serta dagu bayi menempel pada payudara.
Referensi