Secara medis, World Health Organization (WHO) dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan pilihan posisi menyusui yang disesuaikan dengan kondisi pemulihan fisik Ibu pascapersalinan. Bagi Ibu yang menjalani persalinan normal (pervaginam), posisi yang sangat dianjurkan meliputi Cradle Hold (klasik), Cross-Cradle Hold (menyilang untuk kontrol pelekatan optimal), serta Laid-Back Nursing (bersandar santai). Sementara itu, untuk kondisi pascaoperasi caesar (C-section), posisi Football Hold (mengapit di bawah ketiak) dan Side-Lying (berbaring menyamping 90°) menjadi rekomendasi utama.
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), kedua posisi ini sangat efektif mencegah tekanan tumpuan pada luka jahitan abdomen sekaligus memangkas kelelahan fisik Ibu, di samping posisi Laid-Back Nursing (bersandar 45°) yang juga aman karena bobot bayi tertumpu pada dada atas Ibu. Pemilihan posisi yang tepat pada fase adaptasi awal (1–14 hari) ini tidak hanya mencegah nyeri punggung dan lecet puting, tetapi juga memastikan efisiensi transfer ASI hingga 85% agar kebutuhan nutrisi harian Si Kecil terpenuhi secara optimal.
Setelah melahirkan, tubuh Ibu mengalami lonjakan hormon prolaktin untuk memicu sintesis ASI dan hormon oksitosin untuk mengaktifkan Let-Down Reflex (LDR) saat puting tersimulasi isapan bayi. Memahami mekanisme fisiologis ini membantu Ibu tetap tenang, terutama pada 1-3 hari pertama ketika ASI baru keluar berupa kolostrum sebanyak 5-15 ml per sesi.
Kelancaran LDR sangat dipengaruhi oleh rasa rileks dan kenyamanan postur. Untuk mencegah cedera otot leher dan bahu, Ibu disarankan menggunakan fasilitas pendukung seperti bantal menyusui (nursing pillow) berdimensi 50-60 cm (kisaran harga Rp85.000 – Rp250.000) yang mampu menopang beban bayi (3-4 kg) secara stabil.
Memilih cara menyusui harus selalu disesuaikan dengan kondisi pemulihan pasca persalinan. Penggunaan perlengkapan pendukung, seperti bantal menyusui atau kursi bersandaran empuk, sangat direkomendasikan untuk menyangga beban tubuh dan mencegah cedera otot bahu. Berikut adalah teknik posisi menyusui yang direkomendasikan secara medis beserta peruntukannya:
Dalam cradle hold (klasik), bayi diletakkan secara horizontal di atas pangkuan ibu dan disangga oleh lengan yang berada di sisi yang sama dengan payudara. Seluruh tubuh bayi diarahkan menghadap penuh ke dada ibu agar proses menyusu dapat berlangsung dengan nyaman. Posisi ini umumnya lebih sesuai untuk bayi yang sudah lebih stabil dalam melakukan pelekatan.
Hal yang perlu diperhatikan, telinga, bahu, dan pinggul bayi sebaiknya berada dalam satu garis lurus. Penyelarasan ini membantu proses menelan ASI menjadi lebih lancar sekaligus mencegah leher bayi menekuk atau merasa tidak nyaman saat menyusu.
Cross-cradle hold (menyilang) dilakukan dengan menggunakan tangan yang berlawanan dari sisi payudara untuk menopang kepala dan leher bayi secara penuh. Teknik ini memberikan kontrol yang lebih baik dalam membantu mengarahkan mulut bayi ke area areola, sehingga sering direkomendasikan terutama untuk bayi yang lahir prematur atau memiliki berat badan lahir rendah.
Selain itu, tangan ibu di sisi yang sama dengan payudara dapat digunakan untuk menopang payudara dari bawah, membentuk seperti huruf C atau U. Cara ini membantu bayi lebih mudah mencapai pelekatan yang tepat pada areola, sehingga proses menyusui dapat berlangsung lebih efektif dan nyaman.
Pada football hold (mengapit), bayi diposisikan di sisi tubuh ibu, tepat di bawah ketiak. Kaki bayi mengarah ke bagian belakang tubuh ibu, sementara kepala bayi ditopang menggunakan tangan ibu. Posisi ini tidak memberikan tekanan pada area perut sehingga sering direkomendasikan bagi ibu yang baru menjalani operasi caesar.
Untuk membantu kenyamanan, ibu dapat menggunakan bantal menyusui di bawah tubuh bayi agar posisinya sejajar dengan payudara. Dengan begitu, ibu tidak perlu membungkuk saat menyusui, sehingga dapat mengurangi risiko nyeri pada punggung dan menjaga postur tubuh tetap lebih nyaman.
Posisi ini dilakukan dengan cara ibu dan bayi berbaring miring saling berhadapan. Berdasarkan penelitian Puapornpong et al. (2017) dalam jurnal Breastfeeding Medicine, posisi ini memberikan tingkat kenyamanan yang tinggi serta membantu mengurangi kelelahan fisik, sehingga sangat direkomendasikan terutama bagi ibu yang baru menjalani persalinan caesar.
Untuk menjaga keamanan dan memastikan bayi tetap berada pada posisi miring yang stabil menghadap payudara, ibu dapat menggunakan gulungan handuk atau bantal kecil yang diletakkan di belakang punggung bayi sebagai penopang.
Posisi laid-back nursing (bersandar) dilakukan dengan cara ibu bersandar rileks pada sudut sekitar 45 derajat menggunakan bantuan bantal untuk menopang tubuh. Dalam posisi ini, bayi diletakkan tengkurap di atas dada ibu sehingga dapat mencari sendiri posisi pelekatan yang paling nyaman.
Berdasarkan analisis oleh Wang et al. (2021), posisi laid-back terbukti dapat menurunkan risiko nyeri atau trauma pada puting, sekaligus membantu bayi mendapatkan pelekatan yang lebih baik. Secara fisiologis, posisi ini juga memanfaatkan bantuan gravitasi untuk mengatur aliran ASI yang terlalu deras, sehingga bayi lebih nyaman saat menyusu dan dapat mengurangi risiko tersedak.
Keberhasilan proses laktasi tidak hanya bergantung pada posisi penopang tubuh, tetapi juga pada keakuratan mulut bayi saat menempel pada payudara. Menurut Cadwell (2007) pada Journal of Midwifery & Women's Health, pelekatan yang benar mensyaratkan Buah Hati untuk memasukkan sebagian besar area areola bagian bawah ke dalam rongga mulutnya, bukan hanya bagian puting saja.
Untuk memastikan pelekatan berjalan dengan baik, Ibu bisa menerapkan langkah-langkah berikut:
Baca juga: 10 Makanan ASI Booster Alami yang Bagus untuk Busui
Jika mengalami lecet ringan atau payudara bengkak (engorgement), pendekatan biological nurturing (Colson et al., 2008) dengan meletakkan bayi tengkurap di dada Ibu dapat menstimulasi insting alami bayi. Oleskan 1–2 tetes ASI di area puting seusai menyusui sebagai pelembap anti-mikroba alami.
Untuk menjaga kuantitas dan kualitas ASI secara berkelanjutan, terapkan prinsip supply and demand dengan rutin mengosongkan payudara serta melengkapi nutrisi harian melalui PRENAGEN lactamom:
Dapatkan informasi selengkapnya mengenai manfaat dan kandungannya di sini: Khasiat PRENAGEN lactamom untuk Ibu dan Buah Hati.
Referensi: