Ibu tetap bisa hamil meskipun haid belum kembali setelah melahirkan. Pasalnya, ovulasi dapat terjadi sebelum haid pertama, sehingga Ibu bisa kembali memasuki masa subur tanpa menyadarinya. Artinya, kehamilan tetap mungkin terjadi meski Ibu masih menyusui dan belum mengalami menstruasi.
Meski begitu, pola menyusui dapat memengaruhi kemungkinan terjadinya ovulasi. Menyusui secara penuh dan sering, termasuk pada malam hari, dapat membantu menekan ovulasi. Efek ini menjadi dasar Metode Amenore Laktasi (MAL), tetapi MAL hanya dapat diandalkan jika Ibu belum haid, buah hati berusia di bawah 6 bulan, dan Ibu menyusui secara penuh atau hampir penuh dengan interval tertentu.
Sebelum haid pertama setelah persalinan, indung telur dapat lebih dahulu melepaskan sel telur ke saluran telur. Jika sel telur bertemu sperma dan terjadi pembuahan, kehamilan dapat dimulai tanpa didahului haid. Karena itu, tidak adanya haid atau amenore bukan jaminan bahwa Ibu belum kembali subur.
Waktu kembalinya ovulasi juga berbeda pada setiap Ibu. Jackson dan Glasier (2011) melaporkan bahwa rata-rata waktu ovulasi pertama dalam beberapa penelitian berkisar 45–94 hari setelah persalinan pada perempuan yang tidak menyusui. Angka ini bukan batas waktu aman dan tidak dapat langsung diterapkan pada Ibu yang menyusui sebagian atau tidak memberikan ASI eksklusif.
Isapan buah hati merangsang pelepasan prolaktin untuk produksi ASI sekaligus memengaruhi hormon yang mengatur ovulasi. Vekemans (1997) menjelaskan bahwa rangsangan ini dapat menunda ovulasi dan kembalinya haid. Karena itu, frekuensi serta jeda menyusu turut memengaruhi perlindungan terhadap kehamilan.
Berikut pengaruh beberapa pola menyusui terhadap Metode Amenore Laktasi (MAL):
| Pola Menyusui | Pengaruh terhadap Perlindungan MAL |
|---|---|
| Menyusui langsung secara eksklusif | Menyusu rutin siang-malam tanpa jeda panjang mendukung MAL selama seluruh persyaratannya terpenuhi. |
| Memberikan ASI perah atau pumping | Bukti mengenai efektivitas MAL masih terbatas; perlindungannya mungkin lebih rendah dibandingkan menyusui langsung. |
| Mengombinasikan ASI dan susu formula | Jika formula menggantikan sesi menyusu, frekuensi isapan berkurang sehingga MAL tidak sebaiknya diandalkan sebagai satu-satunya kontrasepsi. |
| Menyusui lebih jarang atau menghentikan sesi malam | Jeda menyusu bertambah panjang, sehingga diperlukan metode kontrasepsi lain. |
Jika pola menyusui berubah, konsultasikan kebutuhan kontrasepsi dengan tenaga kesehatan tanpa menunggu haid kembali.
MAL memanfaatkan penundaan ovulasi selama menyusui untuk membantu mencegah kehamilan. Jadi, metode ini tidak cukup hanya didasarkan pada kondisi “masih memberikan ASI”. Ketiga syarat berikut harus terpenuhi bersamaan:
Menyusui eksklusif secara langsung siang-malam merupakan pola yang mendukung penerapan MAL. Jika Ibu mulai memberikan formula atau makanan padat, mengurangi sesi menyusu, atau mengalami haid kembali, jangan menunggu untuk mempertimbangkan kontrasepsi lain. MAL juga tidak memberikan jaminan 100%, meskipun persyaratannya sudah dipenuhi.
Selama menyusui, Ibu mungkin melihat perubahan pada lendir atau cairan dari vagina dan bertanya-tanya apakah masa subur sudah kembali. Perubahan ini belum cukup untuk memastikan terjadinya ovulasi. Tanda kesuburan saat menyusui bisa sulit dibaca, jadi sebaiknya jangan mengandalkannya untuk menentukan kapan hubungan seksual aman dari kehamilan.
Kalau Ibu ingin menunda kehamilan, pilihan KB bisa dibicarakan saat kontrol setelah melahirkan, tanpa menunggu haid datang. Ada beberapa pilihan yang dapat digunakan selama menyusui, seperti kondom, pil progestin, implan, dan IUD. Sampaikan juga preferensi Ibu, misalnya ingin metode harian atau yang bertahan lama, agar dokter atau bidan dapat membantu memilih jenis dan waktu penggunaan yang sesuai.
Apa pun rencana kehamilan berikutnya, kebutuhan nutrisi Ibu tetap perlu diperhatikan selama menyusui. Pilih menu yang beragam agar kebutuhan energi, PROTEIN, vitamin, dan mineral dapat terpenuhi. Beberapa pilihan berikut bisa menjadi bagian dari makanan sehari-hari:
Kebutuhan tambahan setiap Ibu dapat berbeda sesuai pola makan dan kondisi tubuh. Karena itu, suplemen sebaiknya dipilih bersama tenaga kesehatan untuk membantu memenuhi kebutuhan yang belum tercukupi. Asupan bergizi mendukung kesehatan selama menyusui, tetapi tidak menggantikan kontrasepsi untuk mengatur jarak kehamilan.
Mengetahui Ibu hamil lagi saat buah hati masih menyusu mungkin menimbulkan banyak pertanyaan, termasuk apakah ia perlu segera disapih. Pada kehamilan yang sehat, menyusui umumnya masih bisa dilanjutkan. Bicarakan dengan dokter sebelum memutuskan, terutama bila Ibu memiliki faktor risiko kehamilan tertentu.
Salah satu perubahan yang mungkin terasa adalah ASI berkurang meski buah hati tetap sering menyusu. Jika usianya belum 12 bulan, pantau berat badan dan kecukupan asupannya bersama tenaga kesehatan. Ibu juga boleh mengurangi kegiatan dan meminta bantuan keluarga agar punya waktu istirahat yang cukup.
Setelah adiknya lahir, menyusui keduanya tetap bisa menjadi pilihan. Praktik ini disebut tandem nursing, dan tidak harus dilakukan pada waktu yang sama. Jadwalnya dapat mengikuti kenyamanan Ibu, dengan tetap memastikan kebutuhan menyusu bayi yang baru lahir terpenuhi.
Ibu tidak harus memutuskan semuanya sekaligus. Mulailah dengan membahas kondisi kehamilan dan kebutuhan buah hati yang masih menyusu bersama dokter. Untuk membantu menyiapkan pola makan dan mencari posisi menyusui yang lebih nyaman seiring perut membesar, Ibu bisa menemukan panduannya di sini: Panduan Menyusui Saat Hamil agar Tetap Lancar dan Nyaman.
Referensi