Bayi marah saat menyusu dapat dipicu oleh aliran ASI yang terlalu deras atau lambat, pelekatan yang kurang nyaman, maupun gangguan di sekitarnya. Buah hati mungkin melepas payudara sambil menangis karena kesulitan mengikuti aliran ASI atau sedang merasa tidak nyaman. Saat ini terjadi, beri jeda untuk menenangkannya sebelum mencoba menyusui kembali.
Melihat buah hati menolak payudara memang bisa membuat Ibu khawatir. Namun, tangisnya tidak berarti Ibu melakukan kesalahan atau ASI pasti tidak cukup. Dengan memperhatikan kapan kerewelan muncul, Ibu bisa lebih mudah menentukan langkah yang perlu dicoba.
Coba amati apakah buah hati mulai menangis sejak awal menyusu, saat ASI mengalir, atau ketika ada suara di sekitarnya. Perhatikan juga apakah puting terasa sakit dan buah hati tampak kesulitan menelan. Petunjuk ini dapat membantu Ibu mengenali beberapa kemungkinan berikut.
Aliran ASI yang deras dapat membuat buah hati terbatuk, tersedak, atau melepas payudara karena kewalahan menelan. Kondisi ini bisa terjadi pada produksi ASI berlebih, tetapi aliran deras saja belum cukup untuk memastikan adanya hiperlaktasi. Pedoman Academy of Breastfeeding Medicine (2020) menjelaskan bahwa penilaiannya perlu mempertimbangkan tanda pada Ibu dan buah hati secara keseluruhan.
Sebaliknya, buah hati juga dapat frustrasi ketika ASI belum segera mengalir. Ia mungkin mengisap sebentar, melepas payudara, lalu menangis sambil mencoba kembali. Refleks keluarnya ASI yang lambat tidak otomatis berarti produksi ASI Ibu kurang.
Pelekatan yang dangkal dapat membuat puting terasa terjepit atau nyeri dan menyulitkan buah hati menyusu dengan efektif. Ia mungkin berulang kali melepas payudara atau tampak gelisah selama menyusu. Kent et al. (2015) menemukan bahwa masalah posisi dan pelekatan merupakan penyebab yang sering ditemukan pada Ibu yang datang berkonsultasi karena nyeri puting.
Jika menyusui terus terasa sakit, Ibu tidak perlu menahannya sendirian. Mintalah konselor laktasi mengamati satu sesi menyusui untuk membantu menilai posisi dan pelekatan. Tangisan saja belum dapat menunjukkan apakah buah hati sudah mendapatkan cukup ASI.
Seiring bertambahnya usia, buah hati semakin tertarik pada suara, cahaya, dan aktivitas di sekitarnya. Ia bisa melepas payudara untuk melihat-lihat, meskipun belum selesai menyusu. Cobalah berpindah ke tempat yang lebih tenang dan kurangi gangguan, seperti televisi atau percakapan yang ramai.
Pada masa pertumbuhan pesat, buah hati dapat meminta menyusu lebih sering selama beberapa hari. Pola ini bisa membuatnya tampak terus mencari payudara, tetapi berbeda dari penolakan menyusu yang menetap. Ikuti tanda lapar buah hati sambil tetap memantau kecukupan asupannya.
Tumbuh gigi, hidung tersumbat, atau sakit telinga juga dapat membuat proses mengisap terasa tidak nyaman. Karena itu, perhatikan apakah kerewelan disertai tanda sedang sakit. Jangan langsung menganggap penolakan menyusu sebagai bagian dari tumbuh gigi saja.
Saat buah hati mulai menangis, Ibu tidak harus langsung mencoba semua cara sekaligus. Mulailah dengan memberi jeda, lalu sesuaikan langkah berikutnya dengan tanda yang terlihat. Menawarkan payudara ketika buah hati lebih tenang biasanya lebih mudah daripada saat ia menangis keras.
Jika payudara terasa penuh, cukup perah seperlunya untuk membantu kenyamanan, bukan sampai terasa kosong setiap kali akan menyusui. Pemerahan berlebihan dapat merangsang produksi ASI lebih banyak. Bila masalah aliran deras terus berulang, mintalah bantuan konselor laktasi agar penanganannya sesuai.
Ibu juga perlu mendapat kesempatan untuk makan, minum, dan beristirahat. Siapkan air putih di dekat tempat menyusui serta makanan beragam dengan sumber PROTEIN, sayur, dan buah. Mintalah bantuan suami atau keluarga ketika Ibu mulai kelelahan agar kebutuhan Ibu tetap terjaga.
Buah hati yang rewel belum tentu kelaparan. Neifert dan Bunik (2013) membahas bahwa tangisan bayi dapat disalahartikan sebagai tanda ASI tidak mencukupi. Karena itu, perhatikan tanda asupan secara keseluruhan, bukan hanya perilakunya dalam satu sesi menyusu.
Beberapa tanda berikut dapat membantu Ibu memantau kecukupan ASI:
| Hal yang Dipantau | Tanda yang Perlu Diperhatikan |
|---|---|
| Popok basah | Mulai hari kelima, umumnya terdapat setidaknya enam popok yang cukup basah dalam 24 jam. |
| Proses menyusu | Terlihat atau terdengar gerakan menelan setelah isapan awal. |
| Berat badan | Berat badan mulai meningkat setelah penurunan awal dan perkembangannya dipantau tenaga kesehatan. |
| Kondisi buah hati | Tampak sehat dan terjaga saat bangun, serta lebih tenang setelah sebagian besar sesi menyusu. |
Patokan enam popok basah tidak diterapkan begitu saja pada hari-hari pertama setelah lahir. Pada masa tersebut, jumlah popok basah bertambah bertahap seiring meningkatnya asupan. Bila Ibu ragu, mintalah tenaga kesehatan menilai proses menyusu dan perkembangan berat badan buah hati.
Hubungi tenaga kesehatan segera jika buah hati terus menolak menyusu, popok jauh lebih sedikit atau lebih kering dari biasanya, maupun urine tampak pekat. Mulut kering dan buah hati yang semakin mengantuk juga perlu diperhatikan karena dapat menandakan kekurangan cairan. Jika sulit dibangunkan atau mengalami kesulitan bernapas, segera cari pertolongan darurat.
Berat badan yang tidak meningkat sesuai pemantauan juga perlu dievaluasi. Konselor laktasi dapat membantu memperbaiki proses menyusu, sedangkan dokter menilai kemungkinan gangguan kesehatan dan kebutuhan asupan. Ibu tidak perlu menunggu sampai keluhan terasa berat untuk meminta pendampingan.
Menyusui merupakan proses belajar bersama antara Ibu dan buah hati, sehingga wajar bila ada bagian yang membutuhkan penyesuaian. Salah satu langkah yang bisa dimulai dengan mencari posisi yang nyaman dan memperhatikan pelekatan. Yuk, pelajari posisi dan cara pelekatan menyusui yang benar untuk membantu Ibu dan buah hati menikmati sesi menyusui dengan lebih nyaman.
Referensi