Menghadapi hujatan atau komentar negatif saat baru menyusui dapat dilakukan dengan menetapkan boundaries yang sehat terhadap campur tangan orang lain. Selain itu, komunikasi yang asertif juga dapat membantu Ibu merespons pendapat yang kurang menyenangkan tanpa harus terbawa emosi. Perlu diingat bahwa setiap ibu memiliki pengalaman menyusui yang berbeda, sehingga Ibu berhak memilih saran yang sesuai dengan kondisi diri dan Buah Hati serta mengabaikan opini yang tidak berdasar.
Menjaga ketenangan dan kesehatan mental bukanlah tindakan yang egois, melainkan bagian penting dari proses pemulihan setelah melahirkan. Dengan memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan fokus pada kebutuhan keluarga, Ibu dapat menjalani masa menyusui dengan lebih nyaman. Saat Ibu merasa lebih tenang dan percaya diri, proses menyusui pun cenderung berjalan lebih optimal bagi Ibu maupun Si Kecil.
Salah satu langkah yang dapat Ibu lakukan untuk melindungi kesehatan mental adalah membatasi paparan konten media sosial yang memicu perbandingan diri serta menghindari lingkungan yang sering memberikan komentar negatif tentang pola asuh atau menyusui. Membangun batasan (boundaries) yang sehat dapat membantu Ibu lebih fokus pada kebutuhan diri sendiri dan Buah Hati, tanpa terbebani oleh ekspektasi atau penilaian orang lain.
Penelitian yang dimuat dalam Frontiers in Public Health menunjukkan bahwa tekanan terkait menyusui dan penghakiman dari lingkungan dapat meningkatkan risiko stres, kecemasan, hingga trauma pascapersalinan pada sebagian ibu (Grattan et al., 2024).
Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk menyaring informasi dan pendapat yang diterima, serta memprioritaskan dukungan dari orang-orang yang benar-benar membantu. Setelah batasan tersebut terbentuk, Ibu dapat mulai mempraktikkan komunikasi asertif, yaitu menyampaikan keputusan pengasuhan dengan tenang, sopan, dan tegas tanpa merasa harus terus-menerus membenarkan diri.
Komentar yang kurang menyenangkan sering kali datang tanpa diminta, baik dari keluarga, teman, maupun orang asing. Agar tidak terpancing emosi, Ibu dapat menyiapkan beberapa respons berikut:
Tidak semua komentar perlu ditanggapi panjang lebar. Cukup berikan respons singkat, sopan, dan berdasarkan fakta, lalu alihkan fokus pada hal yang benar-benar penting, yaitu kesehatan Ibu dan Si Kecil.
Media sosial dapat menjadi sumber dukungan, tetapi juga bisa memicu perasaan tidak percaya diri. Untuk menjaga kesehatan mental selama masa menyusui, Ibu dapat melakukan beberapa langkah berikut:
Komentar yang menyakitkan dapat memengaruhi kondisi emosional ibu menyusui. Meski sering dianggap sepele, perasaan sedih, marah, atau tertekan akibat kritik yang terus-menerus dapat berdampak pada proses menyusui.
Sebuah tinjauan klinis menunjukkan bahwa stres psikologis dapat mengganggu pelepasan hormon yang berperan dalam pengeluaran ASI (Nagel et al., 2022). Akibatnya, ASI mungkin terasa lebih sulit keluar meskipun produksinya tetap berlangsung. Jika kondisi ini terjadi secara berulang, pengosongan payudara dapat menjadi kurang optimal dan pada akhirnya memengaruhi produksi ASI. Berikut penjelasannya.
Hormon oksitosin berperan merangsang kontraksi sel-sel di sekitar kelenjar payudara sehingga ASI dapat mengalir saat bayi menyusu. Proses ini dikenal sebagai let-down reflex (LDR) atau refleks pengeluaran ASI. Ketika refleks ini bekerja dengan baik, ASI dapat mengalir lebih lancar dan bayi pun menyusu dengan lebih efektif.
Namun, menurut tinjauan yang dipublikasikan dalam Clinical Therapeutics (Nagel et al., 2022), stres psikologis dapat mengganggu pelepasan hormon oksitosin. Saat Ibu merasa tertekan, cemas, atau sedih akibat komentar negatif dari lingkungan, refleks pengeluaran ASI dapat menjadi kurang optimal. Akibatnya, ASI mungkin terasa lebih lambat keluar atau bayi tampak kesulitan mendapatkan aliran ASI yang lancar, meskipun produksi ASI di dalam payudara sebenarnya tetap mencukupi.
Selain menghambat pengeluaran ASI, stres yang berlangsung terus-menerus juga dapat berdampak pada produksi ASI. Produksi ASI bekerja berdasarkan prinsip supply and demand, yaitu semakin sering dan efektif payudara dikosongkan, semakin besar rangsangan bagi tubuh untuk terus memproduksi ASI. Menurut tinjauan yang dipublikasikan dalam Clinical Therapeutics (Nagel et al., 2022), ketika ASI tidak dikeluarkan secara optimal, tubuh akan mengaktifkan mekanisme alami yang dikenal sebagai Feedback Inhibition of Lactation (FIL). Mekanisme ini berfungsi mengatur produksi ASI dengan memberikan sinyal untuk memperlambat produksi saat ASI menumpuk di dalam payudara.
Karena itu, menjaga kelancaran proses menyusui tidak hanya bergantung pada frekuensi menyusui atau memerah ASI, tetapi juga kondisi emosional ibu. Dukungan dari pasangan, keluarga, maupun tenaga kesehatan dapat membantu mengurangi stres dan menciptakan pengalaman menyusui yang lebih nyaman. Dengan kondisi yang lebih tenang, proses menyusui dapat berlangsung lebih optimal sehingga produksi ASI tetap terjaga sesuai kebutuhan Si Kecil.
Salah satu faktor yang membantu ibu tetap kuat menghadapi kritik atau komentar negatif adalah efikasi diri, yaitu keyakinan terhadap kemampuan diri sendiri dalam menjalani peran sebagai ibu. Ketika Ibu percaya pada keputusan dan kemampuan yang dimiliki, pendapat orang lain cenderung tidak mudah memengaruhi kondisi emosional.
Sebuah penelitian oleh Fitrianingsih dkk. (2026) menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat keyakinan menyusui yang lebih tinggi cenderung memiliki kondisi emosional yang lebih baik selama masa nifas. Karena itu, jangan ragu untuk menghargai setiap proses dan pencapaian yang telah Ibu lalui, sekecil apa pun itu. Fokuslah pada perkembangan Ibu dan Si Kecil, serta percayalah pada kemampuan diri sendiri sambil tetap terbuka terhadap saran dari tenaga kesehatan yang tepercaya.
Pastikan Ibu mengonsumsi makanan bergizi seimbang setiap hari, termasuk sumber protein, karbohidrat, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Asupan nutrisi yang cukup dapat membantu mendukung proses pemulihan setelah melahirkan sekaligus memenuhi kebutuhan energi selama menyusui.
Untuk melengkapi kebutuhan nutrisi harian, Ibu juga dapat mengonsumsi susu khusus ibu menyusui seperti PRENAGEN Lactamom. Produk ini dilengkapi dengan Triple Booster Formula yang dirancang untuk mendukung kebutuhan ibu menyusui, yaitu:
Selain memperhatikan nutrisi, jangan lupa memberikan waktu bagi diri sendiri untuk beristirahat dan melakukan aktivitas yang membuat Ibu merasa lebih tenang. Kombinasi antara asupan nutrisi yang baik, istirahat yang cukup, dan dukungan dari orang-orang terdekat dapat membantu Ibu menjaga kesehatan fisik maupun mental selama masa menyusui. Jika Ibu ingin mengenal lebih jauh kandungan nutrisi dalam PRENAGEN Lactamom, simak penjelasan lengkap mengenai manfaat dan keunggulannya di sini: kandungan PRENAGEN Lactamom dan manfaatnya.
Referensi