Kehamilan aterm merupakan kehamilan yang telah mencapai usia cukup bulan atau dalam rentang 37 hingga 42 minggu. Dalam perkembangan dunia medis, rentang ini kini diklasifikasikan lebih spesifik untuk membantu memastikan hasil kesehatan yang lebih optimal bagi Ibu dan buah hati saat persalinan.
Menjelang kelahiran, setiap tambahan waktu yang dihabiskan janin di dalam kandungan, terutama pada minggu-minggu terakhir, merupakan hal yang sangat berharga. Periode ini berperan penting dalam menyempurnakan perkembangan organ vital serta mendukung perkembangan kecerdasan Si Kecil di masa depan. Oleh karena itu, memahami fase kehamilan aterm dengan lebih baik menjadi langkah penting dalam mempersiapkan persalinan secara optimal.
Dulu, bayi yang lahir antara minggu ke-37 hingga ke-42 akan langsung dilabeli "aterm" atau cukup bulan. Namun, organisasi medis seperti American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG) kini telah menghentikan penggunaan label tunggal tersebut. Alasannya, kondisi kesehatan bayi yang lahir di minggu ke-37 ternyata sangat berbeda dengan bayi yang lahir di minggu ke-39 atau ke-40 (ACOG, 2013).
Untuk meningkatkan akurasi, klasifikasi kehamilan aterm kini dibagi menjadi beberapa kategori:
Bayi yang lahir pada fase full term umumnya memiliki kondisi kesehatan paling optimal, dengan risiko gangguan pernapasan dan komplikasi lain yang lebih rendah. Sementara itu, pada fase late term dan postterm, pengawasan medis biasanya akan ditingkatkan karena risiko mulai meningkat kembali.
Pada tahap akhir kehamilan, tubuh janin mengalami perkembangan yang sangat pesat, terutama pada otak. Penelitian dalam jurnal PLOS ONE mencatat bahwa volume korteks otak (bagian yang mengatur kecerdasan) mengalami lonjakan ukuran hingga 50% di antara minggu ke-34 hingga ke-40 (Espel et al., 2014).
Hasilnya, bayi yang lahir di masa full term terbukti memiliki skor perkembangan mental dan kemampuan motorik yang lebih baik saat mereka berusia 12 bulan, dibandingkan dengan bayi yang lahir lebih cepat atau early term (Espel et al., 2014). Selain otak, organ penting lain seperti paru-paru dan hati (liver) juga terus mengalami penyempurnaan fungsi secara pesat hingga minggu ke-39.
Menunggu hingga usia kehamilan mencapai 39 minggu memberikan peluang terbaik bagi buah hati untuk memulai hidup dengan kondisi yang lebih optimal. Oleh karena itu, para ahli memberikan peringatan klinis agar Ibu menghindari operasi sesar secara elektif (tanpa alasan medis darurat) atau induksi persalinan sebelum minggu ke-39 demi menjaga potensi kecerdasan otak buah hati kelak.
Meski bayi kategori early term (37–38 minggu) sering dianggap sudah aman untuk dilahirkan, organ tubuh mereka sebenarnya belum matang secara sempurna. Bayi yang lahir di masa ini cenderung lebih rentan mengalami penyakit kuning (jaundice), kesulitan saat menyusu, hingga masalah pernapasan (Ruth et al., 2014).
Sebaliknya, bagaimana jika lahir melampaui waktu (late/postterm)? Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO), Ibu yang melahirkan di usia kandungan 41 minggu ke atas memiliki risiko lebih tinggi untuk menjalani proses induksi persalinan serta risiko operasi sesar.
Selain itu, bayi yang terlalu lama di dalam kandungan (melebihi 41 minggu) berisiko lebih tinggi mengalami makrosomia, yaitu kondisi berat badan lahir yang berlebih atau terlalu besar (Ranjbar et al., 2023). Itulah sebabnya, memastikan keakuratan usia kehamilan melalui pemeriksaan USG sejak dini (sebelum 24 minggu) sangatlah penting, agar dokter dapat menentukan waktu persalinan yang paling aman untuk Ibu.
Mencapai fase cukup bulan penuh (full term) adalah salah satu strategi paling utama untuk memastikan bayi lahir dengan berat badan ideal, yaitu minimal 2.500 gram. Bayi yang lahir terlalu dini (prematur atau early term) sering kali belum memiliki waktu yang cukup untuk menumpuk simpanan lemak tubuh yang sehat.
Pada trimester ketiga, asupan nutrisi Ibu berperan besar dalam mendukung pertambahan berat badan janin. Nutrisi penting seperti PROTEIN berkualitas, DHA, zat besi, dan kalsium menjadi kunci untuk membantu mencapai berat lahir yang optimal menjelang persalinan.
Selain memantau usia kandungan secara rutin ke dokter, Ibu juga perlu membekali diri dengan mengetahui apa saja faktor-faktor lain yang bisa memicu kelahiran bayi dengan berat rendah. Yuk, pelajari lebih dalam mengenai langkah pencegahan dan hal-hal yang memengaruhi berat lahir buah hati dan persiapan yang bisa Ibu lakukan dari masa kehamilan di sini: Ketahui Penyebab dan Cara Mencegah BBLR pada Bayi.
Kehamilan aterm adalah kehamilan cukup bulan dalam rentang 37 hingga 42 minggu, namun kini dibagi menjadi kategori lebih spesifik untuk akurasi medis. Klasifikasi terbaru menetapkan Early Term (37 minggu 0 hari – 38 minggu 6 hari) dan Full Term (39 minggu 0 hari – 40 minggu 6 hari), di mana usia Full Term dianggap sebagai waktu paling optimal bagi kesehatan bayi karena memiliki risiko gangguan pernapasan terendah.
Minggu-minggu terakhir kehamilan sangat krusial karena otak janin mengalami peningkatan volume korteks sebesar 50% antara minggu ke-34 hingga ke-40. Bayi yang lahir Full Term terbukti memiliki skor perkembangan mental, motorik, serta kematangan organ paru dan hati yang jauh lebih baik dibandingkan bayi yang lahir lebih awal (Early Term).
Meski sering dianggap sudah cukup bulan, bayi Early Term sebenarnya memiliki organ yang belum matang sempurna sehingga lebih rentan mengalami penyakit kuning (jaundice), kesulitan menyusu, hingga masalah pernapasan. Menghindari induksi atau sesar elektif sebelum minggu ke-39 sangat penting untuk memastikan bayi lahir dengan berat badan ideal (minimal 2.500 gram) dan simpanan lemak tubuh yang cukup.
Berdasarkan data dari WHO, Ibu yang melahirkan di usia kandungan 41 minggu ke atas memiliki risiko lebih tinggi untuk menjalani proses induksi persalinan serta risiko operasi sesar, sehingga diperlukan pengawasan medis yang jauh lebih ketat melalui pemindaian USG rutin.
Untuk mencapai berat badan janin ideal dan mendukung perkembangan otak di akhir kehamilan, Ibu wajib mencukupi asupan PROTEIN, DHA, zat besi, dan kalsium. Nutrisi ini berfungsi sebagai modal utama untuk mempercepat pertumbuhan jaringan janin serta memastikan bayi lahir dengan stamina yang kuat.
Referensi: