Gejala dan Cara Mengatasi Penyakit Campak pada Bayi

Ditulis oleh: Redaksi Klikdokter.com

Gejala dan Cara Mengatasi Penyakit Campak pada Bayi

Salah satu penyakit atau gangguan kesehatan yang kerap dialami oleh bayi dan balita adalah campak. Perlu ibu ketahui bahwa bayi serta anak-anak dibawah lima tahun merupakan kelompok yang paling rentan terkena virus campak golongan Paramyxovirus. Namun dibanding anak yang lebih besar, virus ini umumnya akan lebih sering menyerang bayi yang berusia dibawah 2 tahun.

Baca Juga: Cegah Penyakit Campak Pada Ibu Hamil

Beberapa ibu kebingungan ketika mendapati bayi tiba-tiba demam kemudian muncul ruam merah di hampir seluruh tubuh. Ya, demam serta ruam merupakan gejala yang paling khas dari campak. Campak dapat menyerang bayi yang sudah divaksin maupun yang belum. Pada bayi yang telah diberi vaksin campak, gejala campak yang muncul jauh lebih ringan ketimbang bayi yang belum diberi vaksin campak.

Penasaran apa itu campak, gejala, penanganan, serta pencegahannya Bu? Yuk, simak artikel berikut ini.

Apa Itu Campak

Campak merupakan infeksi menular yang disebabkan oleh virus golongan Paramyxovirus. Campak ditandai dengan munculnya ruam berwarna kemerahan di seluruh tubuh yang terjadi akibat virus. Biasanya virus akan bertahan selama 7-14 hari di dalam tubuh.

Campak dapat menular melalui percikan air liur ketika penderita batuk atau bersin. Penularan virus juga bisa terjadi ketika seseorang menyentuh hidung atau mulut setelah memegang benda yang terkontaminasi percikan air liur penderita.

Sebelum ditemukannya imunisasi campak, campak merupakan penyakit endemik yang menyebabkan kematian setiap tahunnya. Namun setelah adanya imunisasi, tingkat gawat darurat akibat penyakit ini menurun drastis, meskipun tidak menutup kemungkinan seseorang untuk terinfeksi virus ini.

Yang perlu digaris bawahi, campak pada bayi dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan kematian jika tidak tertangani dengan baik. Oleh karena itu, ibu perlu segera berkonsultasi dengan dokter jika terdapat tanda-tanda campak pada tubuh anak.

Gejala Campak

Gejala campak pada bayi sama dengan gejala campak yang terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Gejala campak pada bayi muncul sekitar satu hingga dua minggu setelah anak terinfeksi. Awal kemunculan campak ditandai dengan demam tinggi sampai 40 derajat derajat celcius yang diikuti dengan mata merah dan berair, pilek, bersin, batuk kering, kelelahan, sensitif terhadap cahaya, serta hilangnya nafsu makan.

Biasanya dua atau tiga hari setelah munculnya gejala awal, anak akan mengalami gejala lanjutan yaitu muncul bintik-bintik putih keabuan di mulut serta tenggorokan. Lalu muncul juga ruam merah kecoklatan di sekitar telinga, leher, kepala, hingga seluruh tubuh.

Ketika awal munculnya campak, bayi hanya mengalami demam tinggi saja. Sebagaimana ibu tahu bahwa demam tinggi bukanlah suatu penyakit, melainkan hanyalah gejala dari penyakit. Lalu ketika ruam atau bintik merah mulai muncul, diagnosa campak baru bisa ditegakkan.

Ruam merah ini baru muncul sekitar 4 hari setelah gejala awal campak muncul, dan biasanya bertahan selama 5-7 hari. Sedangkan demam akibat campak akan turun ketika ruam mulai muncul.

Ibu harus segera berkonsultasi dengan dokter jika menemukan tanda dan gejala di atas pada bayi. Jangan sampai penanganan campak pada bayi terlambat karena dapat berakibat fatal.

Baca Juga: Cegah Polio Pada Anak Sekarang Juga!

Selain itu, ibu juga harus segera menghubungi fasilitas kesehatan terdekat jika bayi mengalami:

  • Demam tinggi yang tak kunjung reda
  • Sulit dibangunkan
  • Mengigau atau linglung
  • Sulit bernapas
  • Sakit kepala parah
  • Keluar cairan kuning dari mata
  • Masih demam meski ruam merah sudah muncul selama 4 hari atau lebih
  • Pucat dan tampak kelelahan
  • Sakit telinga

Penanganan Campak

Lantas bagaimana penanganan campak pada bayi? Prinsipnya, penanganan campak pada bayi dilakukan dengan terapi pendukung untuk meredakan gejalanya. Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus yang sifatnya self limiting disease, yang berarti penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya seiring dengan tingkat kekebalan tubuh.

Meskipun demikian, ibu tetap harus mengendalikan perkembangan virus dalam tubuh anak supaya tidak menyebar. Virus ini akan sangat berbahaya jika menyerang otak dan paru. Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa ibu lakukan untuk menangani campa pada bayi.

1. Mengistirahatkan anak

Salah satu kunci utama untuk mengatasi campak pada bayi adalah memberi kesempatan bayi untuk istirahat cukup. Kurangi aktivitas fisik dan bermain anak agar ia dapat istirahat sejenak.

Istirahat cukup mampu meningkatkan kekebalan tubuh bayi sehingga tubuh akan semakin kuat melawan virus penyebab campak. Dengan kekebalan tubuh yang kuat, virus campak akan hilang dengan sendirinya dalam waktu maksimal 14 hari.

 

2. Hindari anak Berinteraksi dengan Orang Lain

Campak pada bayi juga dapat ditangani dengan membatasi kontak bayi dengan lingkungan sekitar. Selama terkena campak, anak perlu “diisolasi” untuk sementara waktu mengingat penyakit ini sangat menular.

Pisahkan tempat tidur bayi dengan saudara lainnya agar tidak menular. Pisahkan juga peralatan mandi anak guna mencegah penularan. Pastikan anak tidak kontak dan interaksi dengan orang lain.

 

3. Tetap Beri Gizi yang Cukup

Ibu juga perlu memastikan bahwa gizi dan makanan bayi selama terkena campak tetap terpenuhi dengan baik. Jika bayi berusia dibawah 6 bulan, beri ASI dalam jumlah yang lebih dari biasanya. Dan jika ia sudah berusia diatas 6 bulan, tetap berikan makanan bergizi seimbang lengkap dengan nutrisi dan vitamin.

Gizi yang baik dapat meningkatkan imunitas tubuh sehingga ampuh dalam melawan virus. Berilah makanan yang mudah dicerna dan lembut, mengingat campak pada bayi kerap membuat anak susah makan.

 

4. Tetap Mandi Seperti Biasa

Munculnya ruam merah akibat campak tidak berarti membuat ibu melarang anak mandi. Justru sebaliknya, ibu harus memastikan bahwa kebersihan bayi tetap terjaga. Dengan mandi seperti biasa, bayi akan lebih nyaman karena rasa gatal pada kulit berkurang.

Gunakan sabun anti iritasi pada saat mandi dan usap lembut dengan handuk setelah ia selesai mandi. Berikan juga bedak anti gatal setelah mandi untuk mengurangi rasa gatal.

 

5. Berikan Air Putih yang Cukup

Campak pada bayi menimbulkan demam tinggi di hari-hari pertama. Demam tersebut berpotensi membuat bayi dehidrasi lantaran cairan dan elektrolit tubuh terkuras. Jadi ibu perlu lebih banyak memberikan cairan pada bayi, baik ASI maupun air putih untuk mengganti cairan tubuh yang hilang. Terlebih jika gejala campak pada bayi disertai dengan muntah dan diare.

 

6. Berikan Obat Penurun Panas dan Pereda Nyeri

Campak pada bayi memunculkan demam dan rasa nyeri di seluruh tubuh. Oleh karena itu, untuk meredakan gejalanya, ibu bisa memberikan paracetamol sesuai dosis untuk menurunkan panas serta meredakan nyeri.

Berikan juga vitamin A sesuai dosis yang sangat berguna untuk mempercepat pemulihan. Namun ibu perlu konsultasi terlebih dahulu dengan dokter mengenai dosis vitamin atau suplemen agar sesuai dengan kebutuhan anak.

Pencegahan Campak pada Bayi

Cara paling ampuh untuk mencegah campak pada bayi adalah dengan memberikan vaksin. Vaksin campak diberikan pada bayi di usia 9 bulan kemudian dilanjutkan dengan booster di usia 24 bulan. Selain itu, vaksin ini dapat dilengkapi dengan vaksin MMR yang berguna mencegah 3 penyakit sekaligus, yaitu campak, gondongan, dan rubella. Vaksin MMR diberikan pada bayi yang berusia 15 bulan dengan dosis 0,5 milimeter.

Vaksin campak merupakan vaksin wajib yang diberikan oleh pemerintah secara gratis. Imunisasi ini diberikan di puskesmas, posyandu, sekolah, serta fasilitas kesehatan lainnya.

Selain vaksin campak, pastikan anak juga mendapat imunisasi lengkap termasuk vaksin untuk mencegah penyakit seperti polio, difteri, pertussis, tetanus, hepatitis B, dan lainnya. Ketahui jadwal dan jenis vaksin bayi di sini: Catat, Ini Jenis dan Jadwal Imunisasi Bayi.

Itulah beberapa hal yang perlu ibu tahu mengenai campak pada bayi. Ingat Bu, campak pada bayi harus segera diatasi dengan meredakan gejalanya. Jangan sampai terlambat, karena bisa menyebabkan komplikasi serius yang berbahaya bayi tubuh anak.