Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis Obgyn untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.
Payudara mastitis adalah peradangan pada jaringan payudara yang sering dialami oleh Ibu menyusui, terutama pada beberapa minggu pertama pascapersalinan (Pratiksha Gondkar et al., 2024). Kondisi ini umumnya dipicu oleh penumpukan ASI yang menyumbat saluran laktasi (stasis ASI) atau masuknya bakteri melalui celah lecet pada puting. Gejala utamanya meliputi payudara membengkak, terasa hangat atau panas saat disentuh, kemerahan berbentuk baji (wedge-shaped), serta disertai demam tinggi dan tubuh menggigil. Meskipun terasa sangat nyeri, Ibu wajib tetapmenyusui atau mengosongkan payudara karena ASI dari payudara mastitis 100% aman dikonsumsi oleh bayi.
Memahami perbedaan antara sumbatan saluran ASI biasa (engorgement/plugged duct) dan peradangan mastitis membantu Ibu menentukan langkah penanganan yang tepat (Pratiksha Gondkar et al., 2024):
| Parameter Gejala | Sumbatan Saluran ASI (Tahap Awal) | Peradangan Mastitis (Infeksi Lanjut) |
|---|---|---|
| Tampilan Payudara | Benjolan keras terlokalisir di satu area | Kemerahan meluas berbentuk baji (wedge-shaped) |
| Suhu Payudara | Terasa hangat di area benjolan | Payudara terasa sangat panas dan membengkak hebat |
| Rasa Nyeri | Nyeri pegal saat ditekan atau sebelum disusui | Nyeri hebat menusuk saat menyusui/memompa |
| Suhu Tubuh Ibu | Suhu tubuh normal (tanpa demam) | Demam tinggi (>38,5°C) disertai menggigil dan lemas |
| Pemicu Utama | Aliran ASI terhambat atau pengosongan tidak tuntas | Komplikasi sumbatan yang terinfeksi bakteri |
Penanganan awal yang cepat dan tepat di rumah dapat mencegah peradangan makin memburuk (Arief & Hening, 2022):
Ibu disarankan segera berkonsultasi dengan dokter spesialis kandungan atau konselor laktasi jika (WHO, 2020):
Dokter dapat memberikan resep obat pereda nyeri (analgesik) yang aman untuk busui serta antibiotik khusus selama 10–14 hari jika mastitis disebabkan oleh infeksi bakteri. Pastikan Ibu menghabiskan seluruh dosis antibiotik yang diresepkan agar infeksi tidak kambuh kembali.
Banyak Ibu merasa cemas dan ragu untuk memberikan ASI saat sedang mengalami mastitis. Secara medis, ASI dari payudara yang terkena mastitis sangat aman dikonsumsi oleh bayi (Pratiksha Gondkar et al., 2024).
Kandungan protein, antibodi, dan zat gizi dalam ASI tidak rusak oleh peradangan. Jika terdapat sedikit bakteri atau sel radang di dalam ASI, asam lambung alami Si Kecil yang kuat akan menghancurkannya secara efektif tanpa mengganggu kesehatan pencernaannya. Justru, menghentikan aliran ASI tiba-tiba akan memperparah sumbatan dan memperburuk kondisi mastitis Ibu.
Agar peradangan tidak terjadi kembali di kemudian hari, terapkan langkah pencegahan rutin berikut:
Ibu dapat mendampingi masa menyusui dengan nutrisi harian tepercaya khas PRENAGEN Lactamom yang dirancang khusus untuk memperlancar dan meningkatkan kualitas ASI. Selain mencukupi gizi harian, pastikan pula posisi dan teknik menyusui Ibu sudah tepat agar terhindar dari risiko iritasi puting maupun sumbatan saluran ASI. Ibu dapat mempelajari panduan posisi menyusui selengkapnya di sini: Posisi dan Cara Pelekatan Menyusui yang Benar.
Referensi