Masa Kehamilan

Operasi Sesar (Caesar): Indikasi, Prosedur, Risiko, dan Komplikasi

Ditulis oleh: Amicis

Operasi Sesar (Caesar): Indikasi, Prosedur, Risiko, dan Komplikasi

Bagi sebagian ibu, operasi caesar merupakan momok yang menakutkan. Bayangan ruang operasi yang menyeramkan serta berbagai gunting dan sejenisnya membuat hampir semua ibu hamil berharap dapat bersalin secara normal. Namun faktanya, operasi caesar tidak semengerikan itu kok, Bu. Jika memang terdapat indikasi tertentu yang mengharuskan ibu hamil untuk bersalin secara SC, kenapa harus memaksakan diri untuk tetap normal?

Baca Juga: Melahirkan Normal atau Caesar?

Yuk, simak serba-serbi operasi caesar di bawah ini sebagai bahan pengetahuan seputar kehamilan dan persalinan. Simak ya, Bu!

Apa Itu Operasi Sesar?

Operasi caesar merupakan salah satu jenis persalinan yang cukup populer setelah proses persalinan normal. Proses operasi sesar ini dilakukan dengan menyayat bagian perut hingga rahim ibu untuk mengeluarkan bayi. Biasanya dokter akan melakukan sayatan horizontal di atas tulang kemaluan. Pilihan melakukan operasi sesar biasanya disebabkan oleh beberapa faktor, bisa jadi karena kondisi ibu yang beresiko jika melakukan persalinan normal, atau memang keinginan ibu untuk melahirkan di waktu tertentu.

Umumnya, proses persalinan sesar ini dilakukan pada usia kehamilan 39 minggu atau saat kondisi kandungan berbahaya. Meski banyak yang mengatakan proses persalinan dengan operasi sesar lebih mudah dan minim resiko, tapi proses penyembuhan pasca operasi lebih lama dan membuat kondisi ibu jadi lebih lemah dibandingkan dengan ibu yang melakukan persalinan normal. Bagi ibu yang hendak melakukan operasi caesar dalam proses persalinan, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter kandungan dan persiapan yang matang dengan pasangan dan keluarga.

Indikasi Operasi Sesar

Tak jarang operasi sesar dipilih karena keinginan ibu untuk melahirkan di waktu tertentu, tapi kebanyakan operasi caesar dilakukan karena adanya komplikasi pada kehamilan dan beresiko pada keselamatan ibu dan bayi jika memaksakan persalinan normal. Komplikasi yang terjadi biasanya berpengaruh pada kesulitan melahirkan melalui vagina. Pilihan operasi sesar mulai direncanakan untuk mengantisipasi hal terburuk. Biasanya proses operasi sesar sudah mulai direncanakan sejak pertengahan masa kehamilan atau saat gejala komplikasi mulai muncul.

Kondisi Medis

Berikut ini beberapa penyebab operasi sesar harus dilakukan karena kondisi medis tertentu:

  • Memiliki riwayat sesar di kehamilan sebelumnya
  • Tidak ada perkembangan untuk melahirkan melalui vagina
  • Terhambatnya proses persalinan
  • Persalinan transversal (posisi bahu bayi berada di bawah)
  • Ukuran kepala bayi terlalu besar
  • Posisi bayi sungsang
  • Terjadi komplikasi di awal kehamilan
  • Kesehatan ibu tidak stabil (tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung)
  • Penyakit menular dialami ibu (herpes genital, HIV)
  • Ukuran panggul ibu kecil
  • Hamil kembar
  • Masalah pada plasenta (plasenta previa atau sousio plasenta)
  • Kelainan kongenital pada bayi
  • Terjadi masalah pada leher rahim
  • Kondisi kesehatan terganggu pada bayi (hidrosefalus atau fibroid)
  • Ketuban pecah

Operasi Caesar atas Keinginan Ibu

Selain alasan kondisi medis yang membahayakan ibu dan anak, operasi sesar bisa dilakukan sebagai pilihan bagi ibu untuk melakukan persalinan. Ada beberapa alasan bagi ibu untuk memilih operasi sesar ketimbang persalinan normal. Hal ini memang diperbolehkan karena alasan kesiapan ibu untuk melakukan persalinan juga harus diperhatikan. Beberapa alasan umum yang membuat ibu memilih operasi sesar adalah:

  • Khawatir dengan proses persalinan normal karena sakit, trauma, dan alasan psikologis lainnya.
  • Pengalaman melahirkan normal sebelumnya yang membuat tidak nyaman
  • Pengaruh keluarga
  • Menentukan tanggal kelahiran bayi

Resiko Operasi Sesar

Dibandingkan dengan persalinan normal, operasi sesar memang terbilang lebih aman dan tidak terlalu sakit. Tapi tidak menutup kemungkinan ada beberapa resiko yang juga harus dihadapi ibu jika memutuskan untuk melakukan operasi sesar. Tentu bagi ibu yang ingin melakukan operasi sesar harus memahami prosedur dan peringatan setelah melakukan operasi sesar.

Operasi caesar membutuhkan waktu pemulihan yang lebih lama dibandingkan dengan persalinan normal. Ini adalah hal pertama yang harus dipahami oleh ibu sebelum benar-benar yakin untuk melakukan operasi sesar. Setelah operasi sesar, ibu harus istirahat selama seminggu. Sedangkan pada persalinan normal tidak selama itu.

Hal selanjutnya yang perlu dipersiapkan adalah melakukan tes darah. Nantinya hasil tes darah ini akan menunjukkan informasi golongan darah, kadar hemoglobin, dan lainnya yang berguna bagi tim medis untuk melakukan transfusi darah selama proses operasi berlangsung.

Proses persalinan sesar bisa dilakukan pada kehamilan kedua dan selanjutnya. Sebenarnya tidak ada batasan berapa kali operasi sesar bisa dilakukan bagi seorang ibu. Namun beberapa pendapat mengatakan operasi sesar hanya bisa dilakukan maksimal tiga kali karena rasa sakit saat operasi akan semakin terasa di proses operasi berikutnya.

Perlu diperhatikan lagi bahwa ibu tidak direkomendasikan untuk melahirkan secara normal setelah melakukan tiga kali operasi sesar karena terlalu beresiko.

Pilihan Operasi Sesar Meski Persalinan Normal Memungkinkan

Tidak ada bukti yang menyatakan bahwa melahirkan dengan operasi sesar lebih aman daripada persalinan normal. Hal ini adalah pola pikir yang hingga saat ini berkembang di masyarakat. Pertimbangan matang untuk menyakinkan diri menempuh operasi sesar padahal siap melahirkan normal harus benar-benar diperhatikan. Meskipun banyak yang mengatakan bahwa rasa sakit operasi sesar lebih ringan atau bahkan tidak terasa sama sekali dibandingkan dengan persalinan normal, tapi proses penyembuhan operasi sesar cukup lama dibandingkan dengan ibu yang melahirkan normal. Ditambah lagi kondisi medis pasca operasi sesar lebih rentan dibandingkan dengan persalinan normal.

Prosedur Operasi Sesar

Ada beberapa prosedur yang harus dijalankan bagi ibu yang akan melakukan operasi sesar. Dokter akan memberikan pemahaman tentang prosedur yang harus dilakukan sehingga beberapa hari sebelum operasi, biasanya ibu sudah berada di rumah sakit untuk persiapan. Berikut ini beberapa prosedur yang harus dijalankan saat persiapan operasi sesar.

Baca Juga: Mengapa Harus Melahirkan dengan Operasi Caesar?

  • Dokter akan meminta ibu untuk mandi menggunakan sabun antiseptik dan fokus pada area perut.
  • Hindari mencukur rambut kemaluan sekitar 24 jam sebelum operasi.
  • Membersihkan area perut area dimana sayatan akan dilakukan.
  • Pemasangan kateter ke dalam kandung kemih.
  • Pemasangan jarum infus untuk memasukkan cairan obat-obatan selama operasi dan pasca operasi.
  • Pembiusan anestesi epidural atau spinal yang akan menimbulkan mati rasa dari perut hingga kaki.
  • Pada kondisi tertentu dilakukan pembiusan anestesi umum yang membuat tidak sadarkan diri.

Saat ibu sudah berada di ruang operasi, maka tim medis akan mulai melakukan proses operasi sesar. Adapun beberapa prosedur yang dijalankan adalah sebagai berikut.

  1. Melakukan pembiusan. Ada beberapa jenis obat bius yang dipersiapkan, yaitu:
    • Spinal block, yaitu obat bius yang disuntikkan ke sumsum tulang belakang sehingga bagian bawah tubuh akan mati rasa.
    • Epidural, obat ibus yang disuntikkan ke punggung bawah di luar sumsum tulang belakang.
    • Umum, obat bius yang bisa membuat pasien tak sadarkan diri sepenuhnya.
  2. Tim medis akan membersihkan area perut dan memasang infus.
  3. Memasukkan kateter untuk menjaga kandung kemih dalam keadaan kosong selama operasi berlangsung.
  4. Membuat sayatan vertikal mulai dari pusar hingga tulang kemaluan
  5. Membuka rongga perut dengan membuat sayatan satu persatu pada setiap lapisan perut.
  6. Setelah rongga perut terbuka, dokter akan membuat sayatan horizontal di bagian bawah rahim. Arah sayatan vertikal atau horizontal disesuaikan dengan kondisi medis dan bayi.
  7. Saat rahim terbuka, bayi akan terlihat masih dipenuhi cairan ketuban, lendir dan darah.
  8. Bayi dikeluarkan dan dibersihkan bagian mulut dan hidung.
  9. Memotong tali pusar.
  10. Proses pengambilan plasenta di dalam rahim.
  11. Setelah plasenta diambil, maka sayatan demi sayatan akan ditutup kembali dengan jahitan.

Pemulihan Pasca Operasi Sesar

Setelah proses operasi sesar selesai, maka bayi akan dibawa ke ruang bayi untuk dibersihkan dan pendataan. Sedangkan ibu kembali ke kamar untuk proses pemulihan. Biasanya ibu yang baru saja melakukan operasi sesar akan tinggal 3-5 hari di rumah sakit.

Pada kondisi pemulihan ini, ibu harus minum banyak cairan untuk mempercepat pemulihan dan mencegah sembelit dan kondisi medis lainnya. Proses pemulihan di rumah sakit juga akan mempermudah dokter dan tim medis untuk memantau jahitan bekas luka sayatan saat operasi. Proses penyembuhan bekas luka terkadang mengalami infeksi sehingga perlu dipantau agar tetap bersih dan menutup. Pemasangan infus masih terus dilakukan hingga ibu keluar dari rumah sakit, sedangkan kateter bisa dilepas setelah operasi selesai.

Jika kondisi bayi dan ibu sehat, maka proses menyusui bisa dilakukan selama proses pemulihan sebelum pulang ke rumah. Ibu dianjurkan untuk menghindari mengangkat beban berlebihan dan berdiri dari posisi jongkok karena akan menekan area perut terlalu keras di bagian sayatan. Proses pemulihan ini akan dibantu dengan obat penghilang rasa sakit dan pengering luka karena bekas sayatan tidak boleh terkena air hingga benar-benar kering.

Setelah kembali ke rumah, hindari melakukan aktivitas fisik berlebihan dan olah raga berat hingga 6 minggu pasca operasi. Beri pemahaman pada suami untuk menghindari hubungan seks selama 6 minggu untuk menghindari infeksi dan proses pemulihan yang optimal.

Beberapa tips yang bisa dilakukan dalam proses penyembuhan pasca operasi sesar adalah:

  1. Memenuhi asupan air yang cukup.
  2. Minum obat yang telah diresepkan dengan disiplin.
  3. Cukup istirahat.
  4. Perhatikan kebersihan dan kekeringan bekas operasi.

Komplikasi Operasi Sesar

Operasi sesar yang berhasil akan meminimalisir resiko komplikasi pada ibu dan anak. Namun ada beberapa hal yang sering terjadi pada ibu setelah menjalani operasi sesar dan perlu penanganan medis, seperti:

  • Perdarahan
  • Penggumpalan darah
  • Infeksi pada luka sayatan
  • Efek samping pada obat pemulihan
  • Cedera pada kandung kemih atau usus, sehingga harus dilakukan operasi lanjutan.
  • Berpotensi komplikasi pada kehamilan berikutnya.
  • Infeksi pada lapisan rahim
  • Pembekuan darah di kaki.

Tidak hanya pada ibu, tapi komplikasi juga bisa dialami oleh bayi yang lahir dari operasi sesar. Beberapa resiko yang sering dialami oleh bayi adalah masalah pernapasan. Kondisi pernapasan ini bisa terjadi pada bayi yang lahir sebelum menginjak usia 39 minggu.

Baca Juga: Tips Menghilangkan Stretchmark Pasca Operasi Caesar

Operasi sesar merupakan solusi bagi ibu atau bayi yang mengalami gangguan saat kehamilan. Faktor yang membahayakan dan resiko bisa dihindari dengan melakukan operasi sesar daripada memaksa untuk melakukan persalinan normal. Bagi Ibu yang sedari awal ingin melahirkan secara normal, Anda bisa mempersiapkan diri seperti rutin berolahraga, jalan kaki, ikut senam hamil, dan percaya pada tubuh serta kemampuan sendiri.