Ibu hamil pada dasarnya boleh mengonsumsi susu kental manis (SKM) dalam jumlah kecil sebagai topping atau pelengkap makanan. Namun, SKM tidak dianjurkan untuk diseduh sebagai minuman susu harian yang diandalkan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi. Penggunaannya perlu memperhatikan kandungan gula dan porsi makanan secara keseluruhan.
Teksturnya yang kental dan rasanya yang manis memang membuat SKM cocok dipadukan dengan berbagai makanan. Meski termasuk produk susu dan mengandung PROTEIN serta lemak, fungsinya berbeda dari susu khusus kehamilan. Karena itu, penting bagi Ibu untuk membedakan pelengkap rasa dengan asupan yang dipilih untuk membantu memenuhi kebutuhan gizi.
SKM dibuat dengan mengurangi sebagian air dari susu, kemudian menambahkan gula, atau melalui proses lain yang menghasilkan komposisi serupa. Penambahan gula memberikan rasa manis sekaligus membantu menjaga daya simpan produk. Proses ini menghasilkan tekstur pekat yang menjadi ciri khas SKM.
Kekentalan tersebut tidak berarti kandungan gizinya otomatis lebih sesuai untuk kehamilan. SKM memiliki gula tambahan yang perlu diperhitungkan dalam menu harian. Untuk memahami perbedaannya, berikut gambaran karakteristik SKM dan susu khusus kehamilan:
| Aspek | Susu Kental Manis | Susu Khusus Kehamilan |
|---|---|---|
| Penggunaan | Topping atau pelengkap makanan dan minuman. | Pelengkap asupan nutrisi selama kehamilan. |
| Kandungan gula | Mengandung gula tambahan sebagai bagian dari formulasinya. | Berbeda antarproduk; tersedia pilihan tanpa tambahan gula. |
| Kandungan gizi | Mengandung zat gizi dari susu, tetapi tidak dirancang khusus untuk kebutuhan kehamilan. | Umumnya diperkaya zat gizi seperti asam folat, zat besi, dan kalsium; komposisinya perlu dilihat pada label. |
| Cara konsumsi | Digunakan sedikit sebagai pelengkap, bukan minuman susu harian. | Dikonsumsi sesuai petunjuk penyajian sebagai bagian dari menu bergizi. |
Perbandingan ini menjelaskan perbedaan fungsi, bukan menyatakan SKM tidak memiliki nilai gizi. Menambahkan air pada SKM hanya mengencerkannya, tanpa menambah kandungan zat gizinya. Karena itu, SKM yang diseduh tetap tidak dapat disamakan dengan susu yang diformulasikan untuk melengkapi nutrisi kehamilan.
Hal yang perlu diperhatikan bukan sekadar rasa manisnya, melainkan jumlah yang dikonsumsi dan perannya dalam menu Ibu. Penggunaan sedikit sebagai topping berbeda dengan menyeduh beberapa sendok SKM setiap hari. Berikut alasan untuk membatasi kebiasaan tersebut.
Gula tambahan dalam SKM menyumbang energi tanpa menambahkan vitamin atau mineral yang berarti. Jika porsinya berlebihan, asupan energi harian dapat melampaui kebutuhan tubuh. WHO menyarankan konsumsi gula bebas dibatasi hingga kurang dari 10% total energi harian untuk membantu mengurangi risiko kenaikan berat badan yang tidak sehat dan kerusakan gigi.
Sebagai ilustrasi, pada kebutuhan energi 2.000 kkal, batas tersebut setara dengan kurang dari 50 gram gula bebas sehari. Jumlah ini mencakup seluruh sumber gula bebas, termasuk gula tambahan pada makanan dan minuman. Jadi, gula dari SKM perlu diperhitungkan bersama pemanis lain yang Ibu konsumsi.
Mengandalkan SKM sebagai pengganti sarapan atau makanan bergizi dapat membuat menu Ibu kurang beragam. Mousa et al. (2019) menjelaskan pentingnya kecukupan zat gizi makro dan mikro selama kehamilan untuk mendukung kesehatan Ibu serta perkembangan buah hati. Kebutuhan tersebut tidak dapat dinilai hanya dari rasa kenyang atau banyaknya kalori yang masuk.
Kalsium diperlukan untuk pembentukan tulang buah hati, sedangkan zat besi mendukung pembentukan sel darah merah yang membawa oksigen. Ibu juga membutuhkan PROTEIN, folat, dan berbagai zat gizi lainnya. Karena itu, utamakan makanan beragam dan ikuti anjuran suplemen dari tenaga kesehatan, bukan mengandalkan satu jenis minuman.
Selama kehamilan, perubahan hormon membuat sel tubuh kurang peka terhadap insulin, yaitu hormon yang membantu gula masuk ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi. Plows et al. (2018) menjelaskan bahwa diabetes gestasional dapat terjadi ketika tubuh tidak mampu menghasilkan cukup insulin untuk mengimbangi perubahan tersebut. Konsumsi gula dalam jumlah besar sekaligus dapat menyulitkan pengendalian gula darah, terutama pada Ibu yang sudah mengalami kondisi ini.
Mengonsumsi SKM sesekali tidak otomatis menyebabkan diabetes gestasional. Namun, jika diabetes gestasional terjadi, pengendalian gula darah menjadi penting untuk mengurangi risiko pertumbuhan buah hati yang berlebihan atau makrosomia dan komplikasi persalinan. Panduan ACOG (2018) menekankan penanganan melalui pengaturan makan, pemantauan gula darah, serta pengobatan bila diperlukan.
Ibu tidak perlu merasa bersalah jika sesekali menikmati makanan dengan sedikit SKM. Mulailah dengan mengatur porsi dan frekuensinya, sambil memperhatikan makanan lain sepanjang hari. Makanan tinggi gula sebaiknya dikonsumsi lebih jarang dan dalam jumlah kecil.
Beberapa kebiasaan berikut dapat membantu Ibu mengatur penggunaannya:
Jika Ibu memiliki diabetes gestasional, penggunaan SKM perlu disesuaikan dengan rencana makan dari tenaga kesehatan. Jumlah karbohidrat dari makanan dan minuman tetap diperhitungkan bersama. Mengurangi rasa manis saja belum tentu cukup untuk mencapai target gula darah.
Membatasi gula tambahan tidak berarti Ibu perlu mengurangi asupan nutrisi. PROTEIN dapat diperoleh dari telur, ikan, daging tanpa lemak, dan kacang-kacangan. Lengkapi dengan sayur, buah, serta sumber kalsium seperti susu atau yoghurt sebagai bagian dari menu yang beragam.
Jika terbiasa minum susu, Ibu dapat mempertimbangkan susu tanpa tambahan gula untuk melengkapi asupan harian. Perhatikan kandungan PROTEIN, vitamin, mineral, serta takaran sajinya agar sesuai kebutuhan. Pilihan tanpa tambahan gula tetap dapat mengandung gula alami susu dan karbohidrat, sehingga porsinya tetap perlu diperhitungkan.
Menjaga asupan gula dan memenuhi kebutuhan nutrisi dapat dilakukan bersama melalui pilihan sehari-hari. Sebelum menentukan susu yang sesuai, yuk, kenali kandungan nutrisi susu hamil tanpa tambahan gula. Dengan memahami kandungannya, Ibu bisa lebih cermat memilih pelengkap gizi untuk mendukung kesehatan diri dan buah hati.
Referensi