Dalam artikel ini telah diperiksa keakuratannya oleh dokter spesialis Obgyn untuk memastikan Bunda mendapatkan panduan kesehatan yang terpercaya bagi Si Kecil.
Women’s Day atau Hari Perempuan Internasional adalah momen untuk merayakan kekuatan, perjuangan, dan kontribusi perempuan di berbagai peran kehidupan. Bukan hanya tentang pencapaian di panggung dunia, hari istimewa ini juga menjadi perayaan atas kehidupan baru yang sedang Ibu bentuk dengan penuh kasih di dalam rahim, sebuah proses luar biasa yang menjadikan Ibu bagian penting dari masa depan generasi berikutnya.
Negara secara tegas melindungi keberadaan Ibu melalui berbagai hak ibu hamil, mulai dari perlindungan di tempat kerja hingga penyediaan fasilitas publik yang lebih aman dan ramah. Memahami hak-hak ini bukan sekadar hukum, tetapi langkah awal untuk menjadi perempuan yang berdaya, perempuan yang mampu menjaga kesehatan diri dan buah hati dengan penuh kesadaran dan rasa aman.
Pada perayaan Women’s Day, kekuatan perempuan sering digambarkan melalui pencapaian besar di ruang publik: Karier gemilang, kepemimpinan, dan produktivitas tanpa henti. Namun bagi Ibu hamil dan menyusui, definisi kekuatan memiliki makna yang lebih dalam dan personal.
Kekuatan tidak selalu tentang seberapa banyak yang bisa dilakukan di luar rumah, tetapi tentang daya tahan untuk tetap melangkah ketika tubuh terasa lelah, mual, atau rapuh. Kekuatan Ibu hadir dalam kesabaran menghadapi perubahan tubuh, keberanian menjalani hari demi hari di tengah ketidaknyamanan, serta komitmen untuk terus hadir bagi si Kecil.
Proses kehamilan dan menyusui menuntut adaptasi fisik dan mental yang luar biasa. Para ahli kesehatan menegaskan bahwa ketangguhan perempuan sering kali terlihat bukan dari sorotan panggung besar, melainkan dari kemampuan untuk bertahan, merawat, dan melindungi kehidupan baru dengan penuh kesadaran dan kasih. Inilah bentuk kekuatan yang nyata, tenang, konsisten, dan berdampak jangka panjang.
Kehamilan bukanlah proses biologis pasif. Selama sembilan bulan, tubuh Ibu bekerja tanpa henti (24 jam sehari, tujuh hari seminggu) untuk menopang dan menumbuhkan kehidupan baru. Jantung memompa lebih keras, volume darah meningkat, metabolisme berubah, dan sistem kekebalan beradaptasi demi menjaga keseimbangan antara kebutuhan Ibu dan janin. Semua perubahan ini menuntut energi fisik dan mental yang besar, bahkan ketika aktivitas sehari-hari terlihat “biasa” di mata orang lain.
Setelah melahirkan, kerja nyata ini berlanjut melalui proses menyusui. Menyusui bukan sekadar naluri alami, melainkan keterampilan yang dipelajari dan membutuhkan ketahanan fisik, kesabaran, serta waktu.
Produksi ASI sendiri memerlukan energi tambahan yang signifikan setiap hari. Meski sering tidak terlihat oleh mata awam, peran ini sangat krusial bagi tumbuh kembang si Kecil dan kesehatan jangka panjang Ibu. Inilah bentuk kerja nyata yang layak diakui, dihargai, dan didukung.
Kerja nyata yang dijalani Ibu selama kehamilan dan menyusui seharusnya berjalan seiring dengan perlindungan yang memadai. Oleh karena itu, penting bagi Ibu untuk mengenali hak-hak legal yang dirancang untuk melindungi kesehatan, keselamatan, dan martabat perempuan selama masa ini.
Secara global, berbagai regulasi ketenagakerjaan menekankan pentingnya cuti hamil yang layak, perlindungan dari pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat kehamilan, serta hak atas waktu istirahat dan kondisi kerja yang aman. Perlindungan ini bertujuan agar Ibu dapat menjalani kehamilan dan pemulihan pascamelahirkan tanpa tekanan fisik maupun psikologis yang berlebihan.
Di luar tempat kerja, Ibu juga berhak mendapatkan fasilitas yang mendukung, seperti ruang laktasi yang aman dan nyaman, serta kursi prioritas di transportasi umum. Fasilitas ini bukanlah bentuk keistimewaan, melainkan pengakuan atas beban fisik dan tanggung jawab biologis yang Ibu pikul demi keberlangsungan generasi berikutnya.
Dengan memahami hak-hak ini, Ibu dapat lebih percaya diri dalam menjaga kesehatan diri dan si Kecil, sekaligus berperan aktif sebagai perempuan yang berdaya.
Selain perubahan fisik yang terlihat, Ibu juga memikul beban emosional yang sering kali tidak disadari oleh lingkungan sekitar. Inilah yang dikenal sebagai mental load, kumpulan kekhawatiran yang terus hadir di kepala, mulai dari kesehatan janin atau bayi, kecukupan ASI, hingga rasa bersalah saat emosi terasa tidak stabil.
Beban ini nyata, melelahkan, dan dapat memengaruhi kesejahteraan Ibu secara menyeluruh, meski tidak selalu tampak dari luar. Di momen Hari Perempuan Internasional, penting untuk menegaskan bahwa kesehatan mental Ibu sama berharganya dengan kesehatan fisik.
Merasa lelah, cemas, atau kewalahan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sinyal bahwa tubuh dan pikiran sedang bekerja keras. Dengan memvalidasi perasaan ini, Ibu berhak mencari dukungan, baik dari pasangan, keluarga, maupun tenaga profesional, tanpa rasa bersalah. Merawat kesehatan mental adalah bagian penting dari merawat kehidupan yang sedang dan telah Ibu lahirkan.
Merayakan perempuan berarti menghormati pilihan yang diambil setiap Ibu dalam perjalanan motherhood-nya. Ada Ibu yang kembali bekerja, ada pula yang memilih fokus di rumah. Ada yang menyusui secara langsung, ada yang memberikan ASI perah atau alternatif lain sesuai kondisi. Semua pilihan ini lahir dari pertimbangan, perjuangan, dan konteks yang berbeda, dan semuanya layak mendapatkan apresiasi yang sama.
Pesan utama di Hari Perempuan Internasional adalah menghentikan budaya membandingkan dan menghakimi sesama perempuan. Tidak ada satu definisi “Ibu yang paling benar”.
Ketika perempuan saling mendukung, bukan saling mengukur, maka akan tercipta ruang untuk tumbuh menjadi lebih sehat dan aman. Menghormati pilihan berarti mengakui bahwa setiap Ibu sedang melakukan yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya, dengan cara yang paling mungkin ia jalani.
Hari Perempuan Internasional adalah ruang perayaan bagi perempuan di setiap fase kehidupannya, termasuk Ibu yang sedang hamil atau menyusui. Mereka tidak sedang “berhenti” berkarya, melainkan menjalani fase kehidupan yang menuntut kekuatan luar biasa. Dengan tubuh dan hati, Ibu sedang menciptakan kehidupan baru, sebuah proses yang sarat makna dan pengorbanan, meski sering berlangsung jauh dari sorotan.
Bentuk kekuatan yang paling mendasar dari seorang Ibu adalah kemampuannya menjaga kesehatan diri sendiri di tengah segala tuntutan. Memberi asupan gizi yang baik bukanlah kemewahan, melainkan hak tubuh Ibu agar tetap bertenaga, fokus, dan resilien. Nutrisi yang tercukupi membantu tubuh menopang perubahan fisiologis kehamilan, mendukung produksi ASI, serta menjaga daya tahan dan kesehatan mental Ibu dalam jangka panjang.
Ketika Ibu memahami dan memenuhi kebutuhan gizi harian, ia sedang membangun fondasi penting bagi perempuan yang berdaya, perempuan yang mampu merawat diri sekaligus merawat kehidupan. Merayakan Women’s Day berarti mengingatkan bahwa merawat tubuh melalui gizi seimbang adalah bentuk self-love yang nyata dan berdampak besar, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan.
Rayakan kekuatan diri dengan memberikan nutrisi terbaik. Pelajari selengkapnya tentang: Makanan Bergizi untuk Ibu Hamil dan Cara Memenuhi Kebutuhan Gizinya Setiap Hari.
Referensi: