Masa Kehamilan

Waspada Pendarahan Ketika Hamil

Ditulis oleh: Taufiq

Waspada Pendarahan Ketika Hamil

Ketika mengalami pendarahan saat hamil, wajar jika Ibu merasa panik dan juga cemas. Sebab, pendarahan merupakan salah satu pertanda yang dialami saat terjadi keguguran. Hal ini terjadi bukan karena Ibu mengalami kekurangan nutrisi ibu hamil, tetapi lebih kepada kondisi biologis Ibu. Akan tetapi Ibu juga harus tahu bahwa pendarahan tidak selalu berujung pada kegagalan kehamilan. Pasalnya, pendarahan merupakan sesuatu yang wajar dan normal terjadi, terutama di masa kehamilan. Oleh sebab itu, Ibu harus mengetahui mana pendarahan yang wajar dan mana pendarahan yang membahayakan. Simak dalam artikel ini, ya.

Menurut American Pregnancy Association, pendarahan normal yang terjadi pada ibu hamil di trimester pertama umumnya hanya keluar sedikit dan tidak berlangsung lama (kurang dari tiga hari). Darahnya pun hanya berupa bercak seperti saat akhir menstruasi. Pendarahan ini bisa terjadi karena berhubungan seks saat hamil, hormon kehamilan, pendarahan implantasi, atau bahkan terjadi setelah Ibu menjalani pemeriksaan internal di dokter kandungan.

Sementara itu, pendarahan bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang membahayakan, jika pendarahan tersebut disertai dengan kram perut, darah keluar dalam jumlah banyak, dan warna darahnya terang. Jika Ibu mengalami gejala ini, sebaiknya segeralah lakukan pemeriksaan ke dokter kandungan. Sebab jika tidak, dikhawatirkan Ibu akan mengalami beberapa pendarahan berbahaya di bawah ini:

  1. Pendarahan subkorionik. Pendarahan ini terjadi di sekitar plasenta dan meski bisa membahayakan, kehamilan Ibu masih bisa diselamatkan dengan perawatan yang tepat. Jika dibiarkan, pendarahan ini bisa menyebabkan persalinan prematur atau membuat plasenta lepas dari dinding rahim sehingga mengalami keguguran.
  2. Chemical pregnancy. Chemical pregnancy merupakan keguguran yang terjadi pada awal masa kegamilan, umumnya kurang dari lima minggu. Situasi ini terjadi ketika sperma sudah berhasil membuahi sel telur, namun sel telur gagal untuk bertahan akibat terjadinya gangguan kromosom yang berujung pada keguguran. Tanda-tanda chemical pregnancy adalah Ibu mengalami pendarahan seperti sedang menstruasi disertai dengan rasa nyeri yang sangat hebat.
  3. Kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik merupakan kehamilan yang terjdi di luar kandungan. Jadi, embrio yang sudah dibuahi tidak menempel di rahim melainkan menempel di tempat lain dan seringnya di saluran tuba falopi. Jika embrio dibiarkan tumbuh maka hal tersebut bisa menyebabkan rusaknya tuba falopi dan membuat Ibu mengalami pendarahan. Gejala yang akan dialami jika Ibu mengalami kehamilan ektopik adalah terasa nyeri di panggul dan perut, serta pendarahan dari vagina.
  4. Kehamilan molar. Kehamilan molar atau hamil anggur terjadi karena ketidakseimbangan kromosom yang menyebabkan janin dan plasenta tidak terbentuk sebagaimana mestinya. Kehamilan molar baru bisa terdeteksi melalui pemeriksaan USG; dokter kandungan biasanya akan menyarankan untuk melakukan tindakan berupa kuret atau pengangkatan rahim.

Untuk membantu mengurangi kemungkinan pendarahan saat hamil, susu ibu hamil sangatlah disarankan untuk dikonsumsi. Susu ibu hamil mengandung vitamin B12 yang membantu pembentukan sel darah merah. Tidak hanya itu, susu ibu hamil juga mengandung zat besi, asam folat, inulin, kalsium, di mana semua nutrisi tersebut dibutuhkan untuk perkembangan janin di dalam perut. Salah satu susu ibu hamil yang bisa Ibu coba adalah PRENAGEN mommy. Susu ini hadir dengan berbagai varian rasa yakni cokelat, vanilla, strawberry, moka, dan juga kacang hijau, serta tersedia dalam bentuk kemasan siap minum (UHT) sehingga praktis dibawa ke mana saja.