Masa Kehamilan

Yuk Ketahui Amniotomi yang Dipakai Saat Persalinan!

Ditulis oleh: Amicis

Yuk Ketahui Amniotomi yang Dipakai Saat Persalinan!

Ketika menjelang 40 minggu kehamilan, hampir semua ibu hamil merasakan ketegangan dan kecemasan yang luar biasa. Detik-detik menjelang persalinan memang selalu mendebarkan. Terlebih jika Ibu sudah tak sabar untuk segera bertemu dengan buah hati tercinta.

Namun apa yang terjadi jika hingga mencapai usia kandungan 40 minggu namun si kecil tak kunjung lahir? Belum ada tanda-tanda kontraksi yang terjadi, ataupun tanda lain yang menunjukkan persalinan semakin dekat.

Baca Juga: Hindari Rasa Takut Sebagai Persiapan Persalinan

Jika ini terjadi, biasanya dokter akan mengambil tindakan. Salah satunya adalah amniotomi yang bertujuan untuk merangsang kontraksi serta mempercepat proses persalinan. Mengenai hal-hal yang berkaitan dengan amniotomi serta prosedurnya akan dibahas dalam ulasan berikut ini.

Apa Itu Amniotomi?

Amniotomi merupakan sebuah proses yang dilakukan untuk merangsang serta mempercepat proses persalinan dengan cara memecahkan ketuban. Cara ini biasanya dilakukan jika sudah tiba masanya persalinan namun ketuban belum juga pecah dan kontraksi rahim belum terjadi. Metode ini dapat juga dilakukan jika persalinan berlangsung sangat lama.

Proses amniotomi dilakukan oleh dokter atau bidan dengan cara merobek bagian ketuban dengan alat yang disebut amnihook. Dengan pecahnya ketuban, diharapkan kontraksi rahim dapat terjadi lebih kuat sehingga leher rahim terbuka dan bayi dapat segera dilahirkan.

Alasan Diperlukan

Sebagian besar ibu hamil akan mengalami pecah ketuban secara alami ketika persalinan sudah dimulai. Namun pada beberapa kondisi tertentu, ketuban tak kunjung pecah hingga waktu persalinan tiba. Kontraksi yang terjadi pada rahim juga belum kuat sehingga janin tidak kunjung lahir. Kondisi inilah yang umumnya perlu dilakukan tindakan amniotomi oleh dokter atau bidan.

Tak hanya itu, terdapat beberapa alasan yang menyebabkan tindakan amniotomi diperlukan.

    1. Proses Induksi

      Kondisi lain yang menyebabkan tindakan amniotomi diperlukan adalah ketika dokter melakukan proses induksi. Induksi bertujuan merangsang kontraksi serta mempercepat persalinan. Metode amniotomi sebagai salah satu cara induksi dapat dikombinasikan dengan metode induksi lain seperti pemberian obat dan suntikan.
    2. Merangsang Rahim untuk Kontraksi Lebih Kuat

      Amniotomi juga diperlukan sebagai upaya untuk merangsang kontraksi agar memiliki frekuensi dan kekuatan yang lebih. Tujuannya agar frekuensi, kekuatan, serta durasi kontraksi dapat meningkat setelah muncul kontraksi alami.

      Cara ini dilakukan untuk mengatasi proses persalinan yang sangat lama serta menimbulkan resiko yang berbahaya bagi ibu dan janin. Dalam hal ini, amniotomi dapat mempersingkat proses persalinan serta mencegah munculnya komplikasi akibat proses persalinan yang lama. Amniotomi juga dilakukan untuk mencegah tindakan operasi caesar jika bayi tak kunjung lahir.
    3. Mengawasi Kondisi Janin

      Alasan lain diperlukannya tindakan amniotomi adalah untuk memantau kondisi janin di dalam rahim yang membutuhkan pengawasan. Caranya adalah dengan memasang elektroda pada janin kemudian menyambungkannya ke monitor.

      Setelah tersambung, dokter dapat mendengar detak jantung janin serta memantau aktivitas janin di dalam rahim dengan lebih jelas. Dokter juga dapat melihat apakah terdapat kelainan pada janin atau tidak dengan metode ini.
    4. Mendeteksi Mekonium

      Amniotomi juga diperlukan untuk mendeteksi apakah terdapat mekonium atau tinja janin pada air ketuban. Pasalnya, mekonium dapat tertelan oleh janin dan menyebabkan gangguan paru-paru pada bayi.

Prosedur

Lantas bagaimana prosedur pelaksanaan amniotomi pada ibu hamil? Sebelum masuk ke tahapan prosedur, terdapat beberapa hal yang perlu dipersiapkan. Dokter akan menanyakan mengenai riwayat medis serta obat-obatan yang pasien konsumsi, mulai dari obat resep, obat bebas, perawatan herbal, serta vitamin. Ibu juga dianjurkan untuk membawa catatan medis serta catatan mengenai obat yang pernah dikonsumsi.

Baca Juga: Beberapa Latihan yang Diperlukan Sebagai Persiapan Persalinan

Selanjutnya dokter dapat meminta Ibu untuk menghentikan penggunaan obat yang kemungkinan bisa mempengaruhi proses amniotomi.

Dokter akan melakukan beberapa tahapan berikut ini untuk memulai amniotomi.

      1. Ibu berbaring dengan posisi terlentang dengan kaki ditekuk dan terbuka.
      2. Dokter memasukkan alat berupa kait bedah kecil atau sarung tangan dengan kait di ujung jari melalui vagina serta leher rahim.
      3. Ibu akan merasakan cairan ketuban keluar dari vagina ketika permukaan ketuban digores. Cairan dapat berupa tetesan, aliran, atau bahkan semburan.
      4. Dokter memeriksa cairan ketuban untuk melihat ada tidaknya mekonium
      5. Dokter juga dapat memasang alat untuk merekam dan memantau pergerakan bayi di dalam rahim

Proses tindakan amniotomi membutuhkan waktu selama kurang lebih 5 menit. Ketika proses mulai dilakukan, Ibu sebaiknya memberitahu dokter jika mengalami gangguan seperti kram, kontraksi, keputihan atau perdarahan, serta jika terjadi penurunan gerakan bayi.

Manfaat

Dengan metode amniotomi, Ibu akan mulai merasakan kontraksi yang semakin teratur setelah ketuban pecah. Kontraksi yang dirasakan dapat terjadi segera atau beberapa jam setelah proses amniotomi dilakukan. Jika kontraksi sudah terjadi dengan frekuensi teratur, maka tidak lama lagi persalinan akan terjadi.

Risiko

Meskipun umumnya aman dilakukan, namun bukan berarti amniotomi tidak memiliki resiko. Beberapa resiko yang mungkin terjadi akibat tindakan amniotomi antara lain.

      1. Terjadinya infeksi pada ibu dan janin.
      2. Kemungkinan cedera pada bayi
      3. Tali pusat keluar dari uterus sebelum bayi keluar, sehingga asupan darah dari ibu ke janin terputus. Jika ini terjadi, dokter akan segera melakukan tindakan operasi caesar.
      4. Pendarahan pada vagina.
      5. Infeksi ketuban.
      6. Gawat janin.

Resiko-resiko tersebut kerap terjadi pada ibu hamil yang memiliki masalah kehamilan tertentu. Dapat juga terjadi akibat tindakan amniotomi yang terlalu cepat, yaitu ketika belum terdapat tanda-tanda persalinan namun metode ini sudah dilakukan. Namun jika persalinan sudah waktunya dan serviks sudah melebar sepenuhnya, umumnya tindakan ini memiliki resiko yang tergolong kecil. Tingkat keberhasilannya pun cenderung tinggi.

Pengecualian

Meskipun ada banyak manfaat dari tindakan amniotomi, namun tidak semua ibu hamil diperbolehkan untuk menjalani tindakan amniotomi. Terdapat beberapa kondisi yang menyebabkan ibu hamil tidak diperkenankan menjalani amniotomi, seperti:

      1. Posisi janin masih jauh dan belum masuk panggul.
      2. Posisi bayi sungsang.
      3. Terjadi plasenta previa.
      4. Vasa previa atau pembuluh darah plasenta atau tali pusat janin turun dan keluar dari serviks.

Jika kondisi diatas terjadi pada Ibu, tindakan amniotomi tidak dapat dilakukan. Dokter kemungkinan akan mengambil tindakan lain seperti operasi caesar untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

Baca Juga: 5 Persiapan untuk Persalinan yang Lancar

Itulah beberapa gambaran mengenai amniotomi yang perlu Ibu tahu. Memang pada kondisi tertentu tindakan tersebut sangat diperlukan. Namun pada kondisi lain, tindakan tersebut justru dilarang. Konsultasikan dengan dokter mengenai keluhan serta kondisi kehamilan Ibu agar dokter dapat mengambil tindakan yang paling tepat dalam proses persalinan.

Jika persalinan tak kunjung tiba, Ibu dapat merangsang kontraksi secara alami dengan memperbanyak gerak, berjalan, serta berkomunikasi dengan janin di dalam perut. Jika ada yang mengganjal jangan sungkan untuk menghubungi orang terdekat. Selamat mencoba, Bu!